
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ( ثلاث أقسم عليهن، ما نقص مال قط من صدقة فتصدقوا، ولا عفا رجل عن مظلمة ظلمها إلا زاده الله تعالى بها عزاً فاعفوا يزدكم الله عزاً، ولا فتح رجل على نفسه باب مسألة يسأل الناس إلا فتح الله عليه باب فقر) صحيح أحمد والبزار.

“Rasulullah saw bersabda: “ada tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya yaitu: harta sama sekali tidak berkurang karena sedekah, maka bersedekahlah. Tidaklah seseorang yang memaafkan perbuatan dholim orang lain (terhadap dirinya) melainkan akan Allah tambah dengan kemuliaan, maka maafkanlah niscaya Allah akan menambah kemuliaan kepadamu. Dan tidaklah seseorang yang membuka atas dirinya pintu untuk meminta-minta kepada manusia melainkan akan Allah buka untuknya pintu menuju kefakiran.” (HR. Ahmad dan Al-Bazar)
Hadits di atas diambil dari kitab Kunuz as-Sunnah an-Nabawiyah oleh Bari’ Irfan Taufiq pada juz I halaman 138. Dalam kitab Shahih al-jami’, Syaikh Albani berkata: hadits ini shahih. Lihat hadits no. 3025 dalam kitabnya.
Biasanya di dalam Al-Qur’an atau Hadits apabila terdapat sumpah, maka isi dari sumpah itu menunjukkan sesuatu yang sangat penting dan pasti terlebih fail (pelaku) dari sumpah itu adalah Allah dan Rasul-Nya. Berbeda bila yang bersumpah itu manusia, sumpahnya bisa jadi benar dan bisa jadi bohong. Namun pada umumnya sumpah itu dilakukan untuk menguatkan kebenaran dari sesuatu tersebut. Seperti ketika seseorang hendak menguatkan bahwa dirinya tidak mencuri, maka dia bersumpah “demi Allah saya tidak mencuri”. Ini sumpah yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan bila Allah swt dan rasul-Nya bersumpah atas sesuatu seperti sumpah Nabi pada hadits di atas, maka isi dari sumpah tersebut pasti terjadi dan tidak ada keraguan di dalamnya.
Hadits di atas menjelaskan ada tiga hal yang disumpahi oleh Nabi saw. yaitu:
1. Harta tidak berkurang karena sedekah
Tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa sedekah itu dapat membuat dirinya miskin. Anggapan tersebut membuat mereka enggan untuk bersedekah dan berinfak. Orang-orang yang mempunyai kelebihan harta dan rezeki lebih tertarik untuk berbelanja di mall-mall dari pada membantu anak yatim dan saudara-saudaranya yang membutuhkan. Mereka lebih bahagia membelanjakan hartanya untuk membeli minum-minuman keras dan maen togel (dan judi yang lain) dari pada menyumbangkan untuk masjid-masjid atau di jalan Allah swt. Itu semua disebabkan oleh anggapan mereka yang keliru yaitu bahwa bersedekah akan mengurangi dan menghabiskan harta yang mereka miliki.
Hadits Nabi di atas sudah memadai untuk membantah anggapan mereka yang salah dan dapat dijadikan hujjah (argumen) untuk menghilangkan keragu-raguan setiap orang yang ragu untuk bersedekah atau berinfak di jalan Allah swt. Hadits Nabi tersebut diperkuat lagi oleh firman Allah swt:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah:261)
Ayat dan Hadits di atas jelas menyebutkan bahwa harta tidak akan berkurang disebabkan sedekah atau infak di jalan Allah swt asalkan dilakukan hanya untuk mendapatkan ridha-Nya semata bukan untuk mendapatkan yang lain. Karena itu yakinlah wahai saudaraku akan firman Allah dan sabda Nabi di atas. Dan kepada mereka yang mengatakan bahwa sedekah membuat pelakunya jatuh miskin, katakan...! bahwa anggapan itu sangat keliru dan yang benar adalah justru sebaliknya yaitu harta akan bertambah karena disedekahkan bukan karena disimpan.
Akhirnya penulis berkesimpulan “resep untuk menjadi orang yang kaya adalah senang bersedekah di jalan Allah swt”. Jika anda masih ragu, mak buktikanlah sejak sekarang.
2. Memaafkan kedhaliman orang lain akan meraup kemuliaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melakukan kesalahan baik kesalahan kepada Allah maupun kepada sesama. Karena keliru itu merupakan sifat yang melekat dalam diri manusia. Namun demikian kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan untuk terus berbuat salah. Islam, sebagai agama yang sempurna telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya untuk selalu memberikan maaf kepada saudaranya yang berbuat salah atau dhalim terhadap dirinya dan melarang untuk mendendam.
Memaafkan kesalahan orang lain (tanpa didahului permintaan maaf yang berbuat salah) bukanlah hal yang mudah untuk kita lakukan. Perlu proses dan latihan untuk menjadi orang yang pemaaf. Karena itulah Allah memasukkan sifat pemaaf ini dalam sifat orang-orang yang bertaqwa. (baca Ali-Imran: 134)
Suka memaafkan akan menambah banyak saudara, semakin mempererat ukhuwah, dan lawan akan menjadi kawan. Seperti yang dilakukan oleh rasulullah terhadap masyarakat thoif. Kedatangan raslullah ke Thoif disambut dengan cacian, lemparan batu dan sejenisnya. Dan itu dilakukan mereka setiap kali Nabi lewat di depan mereka. Namun kedhaliman yang mereka lakukan terhadap Nabi, tidak membuat beliau marah dan ada rasa untuk balas dendam. Tapi sebaliknya, Nabi memafkan mereka dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka. Ini terbukti ketika orang-orang yang setiap kali melempari Nabi itu tidak kelihatan, Nabi menyakan akan perihal mereka. Setelah Nabi Tahu bahwa mereka sakit, Nabi menjenguknya dan mendoakan kesembuhan untuk mereka. Karena ketakjuban mereka terhadap pribadi Nabi, mereka menyatakan diri untuk masuk Islam.
Itulah sebabnya mengapa Nabi memerintahkan umatnya untuk senang memberikan maaf. Sungguh mulia pribadi orang yang menjdikan sifat pemaaf sebagai akhlak dalam dirinya. Karenanya jadikanlah kedhaliman atau kesalahan orang lain untuk meraup banyak pahala sehingga menjadi orang yang mulia di sisi Allah swt.
3. Meminta-minta merupakan pintu kefakiran
Di samping halal, Islam juga memerintahkan kepada umatnya untuk mencari rezeki dengan cara yang terhormat dan mencela budaya meminta-minta. Nabi saw. bersabda:
اليد العليا خير من يد السفلى (رواه البخاري
“Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari) Ketika membahas hadits ini, sebagian ulama memasukkannya dalam bahasan celaan bagi orang yang meminta-minta dan anjuran untuk bersedekah. Dalam Hadits yang lain Nabi bersabda:لأن يحمل الرجل حبلا فيحتطب به ثم يجيئ فيضعه فى السوق فيبيعه ثم يستغني به فينفقه على نفسه خير له من أن يسأل الناس أعطوه أو منعوه ( رواه البخاري ومسلم
“Seseorang yang membawa tali lalu pergi untuk mencari kayu bakar denganya, kemudian dia bawa kayu tersebut kepasar untuk dijual dan hasilnya ia pakai untuk mencukupi kebutuhan dirinya , maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang mereka memberi danterkadang tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Itulah tiga substansi sumpah Nabi saw yang terdapat dalam hadits di atas. Sekarang tinggal sikap kita seperti apa. Berupaya ataukah tidak? Dan keberunganlah bagi orang-orang yang mampu mengamalkan perintah dan anjuran rasulullah saw. Wallaahu a’lam. (shl)