Senin, 07 Desember 2009

DUA SENJATA PAMUNGKAS MENJALANI HIDUP

(Oleh: Muhammad Shaleh)


في الصحيحين: عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "والذي نفسي بيده، لا يقضي الله للمؤمن قضاء إلا كان خيرا له، إن أصابته سراء فشكر كان خيرا له، وإن أصابته ضراء فصبر كان خيرا له، وليس ذلك لأحد غير المؤمن.

Dalam kitab shahihain (dua kitab yang memuat hadits-hadits shahih/kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan:
“Dari Nabi saw, beliau bersabda: demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan menetapkan suatu ketentuan terhadap seorang mukmin kecuali ketetapan itu baik untuknya. Jika ia mendapatkan kenikmatan (suatu yang membuat dirinya senang) lau bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah (perkara yang tidak menyenangkan) lalu bersabar, maka bersabar itu kebaikan baginya. Dan hal demikian itu tidak ada melainkan pada diri orang beriman.”

Dalam shahih Muslim hadits no. 299, permulaan lafadz matannya menggunakan lafadz:

"عجبا للمؤمن إن أمره كله خير إن أصابته سراء ..."

“Sangat menakjubkan (urusan) orang yang beriman. Sesungguhnya semua perkaranya merupakan kebaikan. Jika .. (dari Shuhaib ar-Rumi ra.)

Hadits di atas diambil dari kitab “Tafsir Qur’an Al-‘Adhim” oleh Imam ibnu Katsir (w. 774), Juz IV, Halaman 309.

Berangkat dari hadits di atas, ada dua hal yang harus diketahui oleh kita yang mengaku beriman kepada Allah swt. Yaitu hakikat syukur dan sabar. Karena separoh dari iman adalah syukur dan separohnya sabar.

1. SYUKUR

Secara etimologi (bahasa), syukur berarti berterimakasih atau memuji. Secara terminologi adalah pujian yang baik kepada Dzat yang memberi nikmat atas nikmat dan karunia yang telah diberikan. (Sejenak Merenungi Diri, Syaikh Amin Muhammad Jamal, 2004).

Di dalam kitab Tafsir Ayat al-Ahkam, Juz I, halaman 63, disebutkan:

الشكر هو الاعتراف بالنعمة مع ضربٍ من التعظيم ويكون على وجهين
أحدهما : الاعتراف بالنعمة وذلك بالثناء على المنعم ( إبراهيم : 7) والثاني : صرف النعمة فيما يرضي الله وذلك باستعمال السمع والبصر وسائر الحواس فيما خلقت له . (تفسير آيات الأحكام (ج.1, ص. 63)


“Syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang disertai dengan pengagungan (kepada Allah). Bentuk pengakuan terhadap nikmat tersebut ada 2 yaitu:
Pertama: pengakuan nikmat dengan cara memuji sang pemberi nikmat (Ibrahim: 7).
Kedua: pengakuan dengan cara menggunakan nikmat itu di dalam hal-hal yang diridhai Allah swt. Spt menggunakan pendengaran, penglihatan dan seluruh panca indra sesuai dengan fungsi diciptakannya.”

Dari definisi yang kedua ini dapat dipahami bahwa ada dua hal yang harus dipenuhi untuk menjadi orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya yaitu: pertama al-i’tiraaf (pengakuan). Artinya mengakui dan mengetahui bahwa semua nikmat yang dipeolehnya itu datang dari Allah swt. Kemudian dia memuji-Nya dengan lisannya. Kedua: sharfu an-ni’mah (pemanfaatan nikmat). Maksudnya menggunakan atau memanfaatkan nikmat yang didapatkan dalam semua yang diridhai Allah swt. Bila dipakai diluar itu, berarti dia telah kufur nikmat (tidak bersyukur).

Syaikh Amin Muhammad Jamal dalam bukunya menambahkan satu unsur atau syarat lagi yaitu: Haal (kondisi). Artinya seseorang akan dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya bila ketika mendapatkan suatu nikmat dia menerimanya dengan senang dan ridha (kondisi senang) meskipun nikmat yang dia dapatkan itu tidak sesuai dengan harapannya.

Kalau penulis gabungkan dan urutkan ketiga syarat di atas menjadi:
Pertama: al-i’tiraaf (pengakuan). Artinya mengakui dan mengetahui bahwa semua nikmat yang dipeolehnya itu datang dari Allah swt.
Kedua: Haal (kondisi). Artinya menerima semua nikmat dengan senang dan ridha (kondisi senang).
Ketiga: sharfu an-ni’mah/al-amal (pemanfaatan nikmat). Maksudnya menggunakan atau memanfaatkan nikmat yang didapatkan dalam semua yang diridhai Allah swt. Syarat yang ketiga inilah yang (menurut penulis) paling berat.

Itulah tiga syarat yang harus dipenuhi oleh kita agar dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya.

Ada orang yang mendapatkan nikmat dan mengakui atau mengetahui bahwa nikmat tersebut dari Allah swt. Tapi dia tidak senang atau ridha menrimanya, maka orang yang seperti ini sekalipun bersyukur dia tidak bersyukur dengan syukur yang sebenarnya. Ada pula kondisi orang yang ketika mendapat nikmat dia mengetahui dan mengakui kalau nikmat itu dari Allah dan juga senang dan ridha menerimanya. Tapi dia tidak menggunakan dan memanfaatkannya di dalam hal-hal yang diridhai dan diperintahkan Allah swt. Maka orang yang seperti masih belum dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya. Barulah seseorang akan dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya bila ketiga syarat itu terpenuhi: mengakui bahwa nikmat yang diperoleh itu datang dari Allah, lalu senang (ridha) menerimanya kemudian dia pergunakan dalam wilayah yang diridhai dan diperintahkan Allah swt.

Alhasil, untuk menjadi hamba yang senang bersyukur bukanlah perkara yang mudah. Karena syukur tidak hanya dengan mengucapkan alhamdulillah tapi juga harus digunakan dalam semua yang perintahkan Allah swt. Betapa banyak nikmat yang kita peroleh, namun sering juga kita lalaikan. Tubuh yang indah dan kekar, panca indra yang lengkap tanpa cacat ini, seringkali kita gunakan tidak sesuai dengan yang diinginkan Allah swt. Contoh kecil: mulut adalah salah satu nikmat Allah tuk kita. Banyak dari kita yang tidak bisa menggunakannya didalam ketaatan kepada Allah. Mencaci, memfitnah, dan ghibah menjadi hiasan aktifitas harian mulut kita. Mata sering memandang sesuatu yang tidak halal. Ini belum harta, ilmu, dan waktu/umur yang kita miliki. Untuk apa semuanya kita gunakan? Kalau semua itu kita gunakan untuk sesuatu yang dilarang Allah swt maka kita tergolong kepada orang-orang yang kufur ni’mat. Inilah barangkali sebabnya Allah mengatakan dalal firman-Nya:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (سبأ: 13

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.”

Perlu kesungguhan yang tinggi dalam diri kita untuk memasukkan diri kita kepada golongan qolil (sedikit) yang disebutkan Allah dalam ayat di atas. Karena Iblis terkutuk telah bersumpah dan tidak akan pernah berhenti dengan menggunakan segala cara untuk menggelincirkan kita dari golongan hamba yang senang bersyukur kepada Allah swt. (Al-A’raf: 16-17)

2. SABAR

Secara bahasa sabar adalah menahan dan mencegah. Sedangkan secara terminologi Ali bin Nayif as-Syahud menyebutkan dalam kitabnya “Mausu’ah Fiqh al-Ibtila’”, juz I, halaman 13:

الصبر هو حمل النفس على ترك إظهار الجزع ، فإذا كظم الحزن وكف النفس عن إبراز آثاره كان صاحبه صابراً ، وإن ظهر دمع عين أو تغير لون (موسوعة فقه الابتلاء, علي بن نايف الشحود (ج,1. ص. 13

“Sabar adalah menahan diri dari menampakkan kegelisahan. Apabila kesedihannya dapat ditahan dan jiwanya dapat mencegah timbulnya bekas (akibat ketidaksabarannya), pelakunya dapat disebut orang yang sabar sekalipun mencucurkan air mata atau warna wajahnya berubah.”

Definisi yang lain, sabar adalah menahan dan mencegah diri dari kesedihan yang berlebihan dan kemarahan. Maksudnya menyikapi cobaan yang menimpa dengan adab yang baik dan ridha terhadap ketentuan Allah swt. (Sejenak merenungi Diri, Syaikh Amin Muhammad Jamal, 2004).

Penulis sendiri berpandapat sabar adalah menahan diri dari semua perintah, larangan dan ujian Allah swt.

Sebenarnya ketiga definisi sabar di atas tidak jauh berbeda. Karena substansi dari makna sabar itu adalah menahan diri dari berkeluh kesah, rasa tidak terima, menampakkan kemarahan baik karena menghadapi perintah, larangan maupun ujian-ujian Allah swt. Sabar untuk menjalani shalat, meninggalkan zina dan sabar di saat keluarganya dipannggil Allah swt.

Kata sabar dalam Al-Qur’an disebutkan pada 90 tempat lebih. Menurut konsensus ummat Islam Hukumnya wajib bagi umat Islam. (untuk penjelasan tentang hukum-hukum sabar secara mendetail, baca dalam kitab ash-shabru fi al-Qur’an oleh yusuf Qaradhawi, bab hukmu ash-shabri, hal. 29)

Sabar merupakan sifat yang sangat mulia. Pelakunya akan mendapatkan kedudukan yang istimewa dan pahala yang tiada batas di sisi Allah. Seperti firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر: 10)

“Hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas” (Az-Zumar: 10)

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (البقرة: 177)

”Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". (Al-Baqarah: 177)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:


وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (الأنفال: 46)

“Dan bersabarlah kalian sesungguhnya bersama orang-orang yang sabar” (Al-Anfal:46)

Kebersamaan Allah (ma’iyyatullah) dalam ayat ini adalah kebersamaan secara khusus. Yaitu bermakna menolong, membela dan tidak akan menghinakan orang-orang yang sabar. (lihat at-tafsir al-muyassar, oleh para ulama tafsir di bawah asuhan Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki)

Dalam tafsir al-karim ar-rahman fi tafsi al-kalam al-mannan atau lebih mashur dengan sebutan tafsir as-Sa’di juz I, hal. 943 disebutkan bahwa macam-maca sabar ada 3. Yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam hal-hal yang diharamkan dan sabar dalam menghadapi qadar (ujian) Allah swt.

Untuk dapat melaksanakan ketaatan yang maksimal diperlukan kesabaran yang kuat. Seperti sabar dalam menegakkan shalat, sabar untuk berkata jujur, sabar untuk berpakaian sesuai syariat dsb.

Demikian halnya di dalam mematuhi larangan-larangan-Nya. Sabar untuk tidak berzina, sabar dari mennggibah dan memfitnah, sabar untuk tidak menganiaya, sabar dari cinta yang dilarang (cinta kepada pacar) dsb.

Sabar dalam setiap ujian yang menimpa. Seperti sabar atas kekurangan harta, sabar atas meninggalnya orang yang dicintai, sabar atas penyakit yang diderita, sabar atas ancaman lawan, sabar atas fitnah dsb.

Perintah dan larangan Allah di dalam Islam sangat banyak. Namun demikian, semua perintah dan larangan tersebut telah Allah ukur sesuai kemampuan manusia. Karenanya kesabaran merupakan faktor urgen untuk dapat terlaksananya semua ajaran Islam ini.

Apa saja yang menimpa manusia, bila sesuatu tersebut membuatnya senang maka itu jelas sebuah nikmat. Dan bila sesuatu yang menimpanya sesuatu yang membuatnya tidak senang (musibah) maka ia juga sebuah nikmat dilihat dari sisi bahwa setiap musibah itu dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan diberi pahala atas kesabarannya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, juz III, hal. 89)

Wahai sahabat...! tak usah bersedih bila kita ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Atau sangat mengharapkan sesuatu yang kita cintai dengan usaha yang sudah maksimal namun tetap tidak tercapai juga. Mengharapkan si Fulan atau Fulanah sebagai pendamping hidup kita, atau mengharapkan suatu pekerjaan; berbagai upaya telah dilalui, tenaga fisik, fikiran dan finansial telah kita kerahkan, ternyata akhirnya tidak kita dapatkan...di sinilah pentingnya sabar untuk kita jadikan sebagai senjata yang ampuh di dalam menghadapi semuanya. Sepahit apapun penderitaan kita, bila kita sabar, maka berbahagialah...karena kesabaranmu akan menghasilkan pahala yang melimpah dan dosa-dosa pun akan dihapus oleh Allah swt. Bahkan duri yang menusuk dikulit kita, bila sabar, akan menjadi penghapus dosa-dosa kita.

Jadi, bagi orang yang beriman, hidup ini tidak ada yang tidak baik. Bagaimana bisa? Ketika senang ia bersyukur dan disaat susah ia sabar. Bersyukur dan bersabar adalah sama-sama kebaikan dan ia akan mendapatkan pahala dari keduanya. Wallaahu a’lam bis-shawaab. (shl)

Minggu, 29 November 2009

SUMPAH NABI SAW


قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ( ثلاث أقسم عليهن، ما نقص مال قط من صدقة فتصدقوا، ولا عفا رجل عن مظلمة ظلمها إلا زاده الله تعالى بها عزاً فاعفوا يزدكم الله عزاً، ولا فتح رجل على نفسه باب مسألة يسأل الناس إلا فتح الله عليه باب فقر) صحيح أحمد والبزار.
Rata Penuh
“Rasulullah saw bersabda: “ada tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya yaitu: harta sama sekali tidak berkurang karena sedekah, maka bersedekahlah. Tidaklah seseorang yang memaafkan perbuatan dholim orang lain (terhadap dirinya) melainkan akan Allah tambah dengan kemuliaan, maka maafkanlah niscaya Allah akan menambah kemuliaan kepadamu. Dan tidaklah seseorang yang membuka atas dirinya pintu untuk meminta-minta kepada manusia melainkan akan Allah buka untuknya pintu menuju kefakiran.” (HR. Ahmad dan Al-Bazar)

Hadits di atas diambil dari kitab Kunuz as-Sunnah an-Nabawiyah oleh Bari’ Irfan Taufiq pada juz I halaman 138. Dalam kitab Shahih al-jami’, Syaikh Albani berkata: hadits ini shahih. Lihat hadits no. 3025 dalam kitabnya.


Biasanya di dalam Al-Qur’an atau Hadits apabila terdapat sumpah, maka isi dari sumpah itu menunjukkan sesuatu yang sangat penting dan pasti terlebih fail (pelaku) dari sumpah itu adalah Allah dan Rasul-Nya. Berbeda bila yang bersumpah itu manusia, sumpahnya bisa jadi benar dan bisa jadi bohong. Namun pada umumnya sumpah itu dilakukan untuk menguatkan kebenaran dari sesuatu tersebut. Seperti ketika seseorang hendak menguatkan bahwa dirinya tidak mencuri, maka dia bersumpah “demi Allah saya tidak mencuri”. Ini sumpah yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan bila Allah swt dan rasul-Nya bersumpah atas sesuatu seperti sumpah Nabi pada hadits di atas, maka isi dari sumpah tersebut pasti terjadi dan tidak ada keraguan di dalamnya.


Hadits di atas menjelaskan ada tiga hal yang disumpahi oleh Nabi saw. yaitu:

1. Harta tidak berkurang karena sedekah

Tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa sedekah itu dapat membuat dirinya miskin. Anggapan tersebut membuat mereka enggan untuk bersedekah dan berinfak. Orang-orang yang mempunyai kelebihan harta dan rezeki lebih tertarik untuk berbelanja di mall-mall dari pada membantu anak yatim dan saudara-saudaranya yang membutuhkan. Mereka lebih bahagia membelanjakan hartanya untuk membeli minum-minuman keras dan maen togel (dan judi yang lain) dari pada menyumbangkan untuk masjid-masjid atau di jalan Allah swt. Itu semua disebabkan oleh anggapan mereka yang keliru yaitu bahwa bersedekah akan mengurangi dan menghabiskan harta yang mereka miliki.

Hadits Nabi di atas sudah memadai untuk membantah anggapan mereka yang salah dan dapat dijadikan hujjah (argumen) untuk menghilangkan keragu-raguan setiap orang yang ragu untuk bersedekah atau berinfak di jalan Allah swt. Hadits Nabi tersebut diperkuat lagi oleh firman Allah swt:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(al-Baqarah:261)

Ayat dan Hadits di atas jelas menyebutkan bahwa harta tidak akan berkurang disebabkan sedekah atau infak di jalan Allah swt asalkan dilakukan hanya untuk mendapatkan ridha-Nya semata bukan untuk mendapatkan yang lain. Karena itu yakinlah wahai saudaraku akan firman Allah dan sabda Nabi di atas. Dan kepada mereka yang mengatakan bahwa sedekah membuat pelakunya jatuh miskin, katakan...! bahwa anggapan itu sangat keliru dan yang benar adalah justru sebaliknya yaitu harta akan bertambah karena disedekahkan bukan karena disimpan.

Akhirnya penulis berkesimpulan “resep untuk menjadi orang yang kaya adalah senang bersedekah di jalan Allah swt”. Jika anda masih ragu, mak buktikanlah sejak sekarang.

2. Memaafkan kedhaliman orang lain akan meraup kemuliaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melakukan kesalahan baik kesalahan kepada Allah maupun kepada sesama. Karena keliru itu merupakan sifat yang melekat dalam diri manusia. Namun demikian kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan untuk terus berbuat salah. Islam, sebagai agama yang sempurna telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya untuk selalu memberikan maaf kepada saudaranya yang berbuat salah atau dhalim terhadap dirinya dan melarang untuk mendendam.

Memaafkan kesalahan orang lain (tanpa didahului permintaan maaf yang berbuat salah) bukanlah hal yang mudah untuk kita lakukan. Perlu proses dan latihan untuk menjadi orang yang pemaaf. Karena itulah Allah memasukkan sifat pemaaf ini dalam sifat orang-orang yang bertaqwa. (baca Ali-Imran: 134)


Suka memaafkan akan menambah banyak saudara, semakin mempererat ukhuwah, dan lawan akan menjadi kawan. Seperti yang dilakukan oleh rasulullah terhadap masyarakat thoif. Kedatangan raslullah ke Thoif disambut dengan cacian, lemparan batu dan sejenisnya. Dan itu dilakukan mereka setiap kali Nabi lewat di depan mereka. Namun kedhaliman yang mereka lakukan terhadap Nabi, tidak membuat beliau marah dan ada rasa untuk balas dendam. Tapi sebaliknya, Nabi memafkan mereka dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka. Ini terbukti ketika orang-orang yang setiap kali melempari Nabi itu tidak kelihatan, Nabi menyakan akan perihal mereka. Setelah Nabi Tahu bahwa mereka sakit, Nabi menjenguknya dan mendoakan kesembuhan untuk mereka. Karena ketakjuban mereka terhadap pribadi Nabi, mereka menyatakan diri untuk masuk Islam.

Itulah sebabnya mengapa Nabi memerintahkan umatnya untuk senang memberikan maaf. Sungguh mulia pribadi orang yang menjdikan sifat pemaaf sebagai akhlak dalam dirinya. Karenanya jadikanlah kedhaliman atau kesalahan orang lain untuk meraup banyak pahala sehingga menjadi orang yang mulia di sisi Allah swt.


3. Meminta-minta merupakan pintu kefakiran

Di samping halal, Islam juga memerintahkan kepada umatnya untuk mencari rezeki dengan cara yang terhormat dan mencela budaya meminta-minta. Nabi saw. bersabda:

اليد العليا خير من يد السفلى (رواه البخاري

“Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari) Ketika membahas hadits ini, sebagian ulama memasukkannya dalam bahasan celaan bagi orang yang meminta-minta dan anjuran untuk bersedekah. Dalam Hadits yang lain Nabi bersabda:

لأن يحمل الرجل حبلا فيحتطب به ثم يجيئ فيضعه فى السوق فيبيعه ثم يستغني به فينفقه على نفسه خير له من أن يسأل الناس أعطوه أو منعوه ( رواه البخاري ومسلم

“Seseorang yang membawa tali lalu pergi untuk mencari kayu bakar denganya, kemudian dia bawa kayu tersebut kepasar untuk dijual dan hasilnya ia pakai untuk mencukupi kebutuhan dirinya , maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang mereka memberi danterkadang tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah tiga substansi sumpah Nabi saw yang terdapat dalam hadits di atas. Sekarang tinggal sikap kita seperti apa. Berupaya ataukah tidak? Dan keberunganlah bagi orang-orang yang mampu mengamalkan perintah dan anjuran rasulullah saw.
Wallaahu a’lam. (shl)

Jumat, 27 November 2009

SEBAB MANUSIA DIBINASAKAN ALLAH SWT

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an:
"Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di Bumi, kecuali sebagian kecil dari mereka yang telah Kami selamatkan. Dan orang-orang yang dzalim itu hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan. dan mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa". (Hud: 116)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang sebab mengapa suatu umat dibinasakan oleh Allah.

1. Hilangnya Budaya Nahi Mungkar

Kemungkaran atau kerusakan yang terjadi saat ini sangat kompleks. Mulai dari kerusakan dalam ranah politik, ekonomi, sosial, lingkungan, mural dan lain-lain. secara hati nurani, siapapun orangnya, dapat dipastikan nuraninya akan menentang setiap kerusakan Terlebih Allah sang pencipta. Sebagaimana firman-Nya:
"...dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (Al-Qoshas: 77)

kalau kita membaca sejarah umat para Nabi sebelum Rasulullah Muhammad saw. penyebab mereka dibinasakan oleh Allah adalah karena kemungkaran dan kerusakan sudah menjadi aktivitas harian mereka. kegiatan sehari-harinya hanya diwarnai oleh penyimpangan dari perintah-perintah Allah swt. Ketika diutus kepada mereka seorang yang menyeru kepada Allah swt mereka tolak mentah-mentah.

2. Terlena Dengan Kenikmatan Duniawi

Pada dasarnya dunia ini dengan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya (Ali-Imran: 14) boleh dinikmati dan dimiliki asalkan tidak melanggar ketentuan yang telah Allah tetapkan. Harta, wanita, anak, jabatan, semuanya boleh kita miliki tapi harus dengan cara yang benar. Ingin wanita, Islam memerintahkan untuk menikah. ingin harta, Islam memerintahkan untuk mencarinya dengan cara yang benar dan terhormat. begitu seterusnya. Bila kita melanggar dari ketentuan yang Allah gariskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka saat itulah kita termasuk orang-orang yang melampaui batas yang dibenci oleh Allah swt.

3. Senang Berbuat Dosa

Faktor yang ketiga ini sifatnya lebih umum dari point yang pertama dan kedua. karena keduanya termasuk perbuatan dosa.
Dosa adalah penilaian buruk yang diberikan Allah atas perbuatan manusia karena melanggar Aqidah, Syari'ah, dan Akhlak Islam. sekecil apapun bentuk dosa itu Allah tetap tidak menyukainya.
Allah swt tidak akan membinasakan suatu umat atau bangsa bila mereka adalah orang-orang yang senag berbuat kebajikan. (Hud: 117). Wallaahu a'lam. (Shl)