Senin, 07 Desember 2009

DUA SENJATA PAMUNGKAS MENJALANI HIDUP

(Oleh: Muhammad Shaleh)


في الصحيحين: عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "والذي نفسي بيده، لا يقضي الله للمؤمن قضاء إلا كان خيرا له، إن أصابته سراء فشكر كان خيرا له، وإن أصابته ضراء فصبر كان خيرا له، وليس ذلك لأحد غير المؤمن.

Dalam kitab shahihain (dua kitab yang memuat hadits-hadits shahih/kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan:
“Dari Nabi saw, beliau bersabda: demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan menetapkan suatu ketentuan terhadap seorang mukmin kecuali ketetapan itu baik untuknya. Jika ia mendapatkan kenikmatan (suatu yang membuat dirinya senang) lau bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah (perkara yang tidak menyenangkan) lalu bersabar, maka bersabar itu kebaikan baginya. Dan hal demikian itu tidak ada melainkan pada diri orang beriman.”

Dalam shahih Muslim hadits no. 299, permulaan lafadz matannya menggunakan lafadz:

"عجبا للمؤمن إن أمره كله خير إن أصابته سراء ..."

“Sangat menakjubkan (urusan) orang yang beriman. Sesungguhnya semua perkaranya merupakan kebaikan. Jika .. (dari Shuhaib ar-Rumi ra.)

Hadits di atas diambil dari kitab “Tafsir Qur’an Al-‘Adhim” oleh Imam ibnu Katsir (w. 774), Juz IV, Halaman 309.

Berangkat dari hadits di atas, ada dua hal yang harus diketahui oleh kita yang mengaku beriman kepada Allah swt. Yaitu hakikat syukur dan sabar. Karena separoh dari iman adalah syukur dan separohnya sabar.

1. SYUKUR

Secara etimologi (bahasa), syukur berarti berterimakasih atau memuji. Secara terminologi adalah pujian yang baik kepada Dzat yang memberi nikmat atas nikmat dan karunia yang telah diberikan. (Sejenak Merenungi Diri, Syaikh Amin Muhammad Jamal, 2004).

Di dalam kitab Tafsir Ayat al-Ahkam, Juz I, halaman 63, disebutkan:

الشكر هو الاعتراف بالنعمة مع ضربٍ من التعظيم ويكون على وجهين
أحدهما : الاعتراف بالنعمة وذلك بالثناء على المنعم ( إبراهيم : 7) والثاني : صرف النعمة فيما يرضي الله وذلك باستعمال السمع والبصر وسائر الحواس فيما خلقت له . (تفسير آيات الأحكام (ج.1, ص. 63)


“Syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang disertai dengan pengagungan (kepada Allah). Bentuk pengakuan terhadap nikmat tersebut ada 2 yaitu:
Pertama: pengakuan nikmat dengan cara memuji sang pemberi nikmat (Ibrahim: 7).
Kedua: pengakuan dengan cara menggunakan nikmat itu di dalam hal-hal yang diridhai Allah swt. Spt menggunakan pendengaran, penglihatan dan seluruh panca indra sesuai dengan fungsi diciptakannya.”

Dari definisi yang kedua ini dapat dipahami bahwa ada dua hal yang harus dipenuhi untuk menjadi orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya yaitu: pertama al-i’tiraaf (pengakuan). Artinya mengakui dan mengetahui bahwa semua nikmat yang dipeolehnya itu datang dari Allah swt. Kemudian dia memuji-Nya dengan lisannya. Kedua: sharfu an-ni’mah (pemanfaatan nikmat). Maksudnya menggunakan atau memanfaatkan nikmat yang didapatkan dalam semua yang diridhai Allah swt. Bila dipakai diluar itu, berarti dia telah kufur nikmat (tidak bersyukur).

Syaikh Amin Muhammad Jamal dalam bukunya menambahkan satu unsur atau syarat lagi yaitu: Haal (kondisi). Artinya seseorang akan dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya bila ketika mendapatkan suatu nikmat dia menerimanya dengan senang dan ridha (kondisi senang) meskipun nikmat yang dia dapatkan itu tidak sesuai dengan harapannya.

Kalau penulis gabungkan dan urutkan ketiga syarat di atas menjadi:
Pertama: al-i’tiraaf (pengakuan). Artinya mengakui dan mengetahui bahwa semua nikmat yang dipeolehnya itu datang dari Allah swt.
Kedua: Haal (kondisi). Artinya menerima semua nikmat dengan senang dan ridha (kondisi senang).
Ketiga: sharfu an-ni’mah/al-amal (pemanfaatan nikmat). Maksudnya menggunakan atau memanfaatkan nikmat yang didapatkan dalam semua yang diridhai Allah swt. Syarat yang ketiga inilah yang (menurut penulis) paling berat.

Itulah tiga syarat yang harus dipenuhi oleh kita agar dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya.

Ada orang yang mendapatkan nikmat dan mengakui atau mengetahui bahwa nikmat tersebut dari Allah swt. Tapi dia tidak senang atau ridha menrimanya, maka orang yang seperti ini sekalipun bersyukur dia tidak bersyukur dengan syukur yang sebenarnya. Ada pula kondisi orang yang ketika mendapat nikmat dia mengetahui dan mengakui kalau nikmat itu dari Allah dan juga senang dan ridha menerimanya. Tapi dia tidak menggunakan dan memanfaatkannya di dalam hal-hal yang diridhai dan diperintahkan Allah swt. Maka orang yang seperti masih belum dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya. Barulah seseorang akan dikatakan sebagai orang yang bersyukur dengan syukur yang sebenarnya bila ketiga syarat itu terpenuhi: mengakui bahwa nikmat yang diperoleh itu datang dari Allah, lalu senang (ridha) menerimanya kemudian dia pergunakan dalam wilayah yang diridhai dan diperintahkan Allah swt.

Alhasil, untuk menjadi hamba yang senang bersyukur bukanlah perkara yang mudah. Karena syukur tidak hanya dengan mengucapkan alhamdulillah tapi juga harus digunakan dalam semua yang perintahkan Allah swt. Betapa banyak nikmat yang kita peroleh, namun sering juga kita lalaikan. Tubuh yang indah dan kekar, panca indra yang lengkap tanpa cacat ini, seringkali kita gunakan tidak sesuai dengan yang diinginkan Allah swt. Contoh kecil: mulut adalah salah satu nikmat Allah tuk kita. Banyak dari kita yang tidak bisa menggunakannya didalam ketaatan kepada Allah. Mencaci, memfitnah, dan ghibah menjadi hiasan aktifitas harian mulut kita. Mata sering memandang sesuatu yang tidak halal. Ini belum harta, ilmu, dan waktu/umur yang kita miliki. Untuk apa semuanya kita gunakan? Kalau semua itu kita gunakan untuk sesuatu yang dilarang Allah swt maka kita tergolong kepada orang-orang yang kufur ni’mat. Inilah barangkali sebabnya Allah mengatakan dalal firman-Nya:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (سبأ: 13

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.”

Perlu kesungguhan yang tinggi dalam diri kita untuk memasukkan diri kita kepada golongan qolil (sedikit) yang disebutkan Allah dalam ayat di atas. Karena Iblis terkutuk telah bersumpah dan tidak akan pernah berhenti dengan menggunakan segala cara untuk menggelincirkan kita dari golongan hamba yang senang bersyukur kepada Allah swt. (Al-A’raf: 16-17)

2. SABAR

Secara bahasa sabar adalah menahan dan mencegah. Sedangkan secara terminologi Ali bin Nayif as-Syahud menyebutkan dalam kitabnya “Mausu’ah Fiqh al-Ibtila’”, juz I, halaman 13:

الصبر هو حمل النفس على ترك إظهار الجزع ، فإذا كظم الحزن وكف النفس عن إبراز آثاره كان صاحبه صابراً ، وإن ظهر دمع عين أو تغير لون (موسوعة فقه الابتلاء, علي بن نايف الشحود (ج,1. ص. 13

“Sabar adalah menahan diri dari menampakkan kegelisahan. Apabila kesedihannya dapat ditahan dan jiwanya dapat mencegah timbulnya bekas (akibat ketidaksabarannya), pelakunya dapat disebut orang yang sabar sekalipun mencucurkan air mata atau warna wajahnya berubah.”

Definisi yang lain, sabar adalah menahan dan mencegah diri dari kesedihan yang berlebihan dan kemarahan. Maksudnya menyikapi cobaan yang menimpa dengan adab yang baik dan ridha terhadap ketentuan Allah swt. (Sejenak merenungi Diri, Syaikh Amin Muhammad Jamal, 2004).

Penulis sendiri berpandapat sabar adalah menahan diri dari semua perintah, larangan dan ujian Allah swt.

Sebenarnya ketiga definisi sabar di atas tidak jauh berbeda. Karena substansi dari makna sabar itu adalah menahan diri dari berkeluh kesah, rasa tidak terima, menampakkan kemarahan baik karena menghadapi perintah, larangan maupun ujian-ujian Allah swt. Sabar untuk menjalani shalat, meninggalkan zina dan sabar di saat keluarganya dipannggil Allah swt.

Kata sabar dalam Al-Qur’an disebutkan pada 90 tempat lebih. Menurut konsensus ummat Islam Hukumnya wajib bagi umat Islam. (untuk penjelasan tentang hukum-hukum sabar secara mendetail, baca dalam kitab ash-shabru fi al-Qur’an oleh yusuf Qaradhawi, bab hukmu ash-shabri, hal. 29)

Sabar merupakan sifat yang sangat mulia. Pelakunya akan mendapatkan kedudukan yang istimewa dan pahala yang tiada batas di sisi Allah. Seperti firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر: 10)

“Hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas” (Az-Zumar: 10)

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (البقرة: 177)

”Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". (Al-Baqarah: 177)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:


وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (الأنفال: 46)

“Dan bersabarlah kalian sesungguhnya bersama orang-orang yang sabar” (Al-Anfal:46)

Kebersamaan Allah (ma’iyyatullah) dalam ayat ini adalah kebersamaan secara khusus. Yaitu bermakna menolong, membela dan tidak akan menghinakan orang-orang yang sabar. (lihat at-tafsir al-muyassar, oleh para ulama tafsir di bawah asuhan Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki)

Dalam tafsir al-karim ar-rahman fi tafsi al-kalam al-mannan atau lebih mashur dengan sebutan tafsir as-Sa’di juz I, hal. 943 disebutkan bahwa macam-maca sabar ada 3. Yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam hal-hal yang diharamkan dan sabar dalam menghadapi qadar (ujian) Allah swt.

Untuk dapat melaksanakan ketaatan yang maksimal diperlukan kesabaran yang kuat. Seperti sabar dalam menegakkan shalat, sabar untuk berkata jujur, sabar untuk berpakaian sesuai syariat dsb.

Demikian halnya di dalam mematuhi larangan-larangan-Nya. Sabar untuk tidak berzina, sabar dari mennggibah dan memfitnah, sabar untuk tidak menganiaya, sabar dari cinta yang dilarang (cinta kepada pacar) dsb.

Sabar dalam setiap ujian yang menimpa. Seperti sabar atas kekurangan harta, sabar atas meninggalnya orang yang dicintai, sabar atas penyakit yang diderita, sabar atas ancaman lawan, sabar atas fitnah dsb.

Perintah dan larangan Allah di dalam Islam sangat banyak. Namun demikian, semua perintah dan larangan tersebut telah Allah ukur sesuai kemampuan manusia. Karenanya kesabaran merupakan faktor urgen untuk dapat terlaksananya semua ajaran Islam ini.

Apa saja yang menimpa manusia, bila sesuatu tersebut membuatnya senang maka itu jelas sebuah nikmat. Dan bila sesuatu yang menimpanya sesuatu yang membuatnya tidak senang (musibah) maka ia juga sebuah nikmat dilihat dari sisi bahwa setiap musibah itu dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan diberi pahala atas kesabarannya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, juz III, hal. 89)

Wahai sahabat...! tak usah bersedih bila kita ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Atau sangat mengharapkan sesuatu yang kita cintai dengan usaha yang sudah maksimal namun tetap tidak tercapai juga. Mengharapkan si Fulan atau Fulanah sebagai pendamping hidup kita, atau mengharapkan suatu pekerjaan; berbagai upaya telah dilalui, tenaga fisik, fikiran dan finansial telah kita kerahkan, ternyata akhirnya tidak kita dapatkan...di sinilah pentingnya sabar untuk kita jadikan sebagai senjata yang ampuh di dalam menghadapi semuanya. Sepahit apapun penderitaan kita, bila kita sabar, maka berbahagialah...karena kesabaranmu akan menghasilkan pahala yang melimpah dan dosa-dosa pun akan dihapus oleh Allah swt. Bahkan duri yang menusuk dikulit kita, bila sabar, akan menjadi penghapus dosa-dosa kita.

Jadi, bagi orang yang beriman, hidup ini tidak ada yang tidak baik. Bagaimana bisa? Ketika senang ia bersyukur dan disaat susah ia sabar. Bersyukur dan bersabar adalah sama-sama kebaikan dan ia akan mendapatkan pahala dari keduanya. Wallaahu a’lam bis-shawaab. (shl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa komentarmu?