(Muhammad Shaleh)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahalamu. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenagan yang memperdayakan. (Ali- Imran: 185)
Hidup ini adalah sebuah perjalanan, perjalanan menuju akhirat (Allah swt). Sebelulm sampai kepada Allah, Semua makhluk akan merasakan dan melalui sebuah peristiwa agung dan misterius, kedatangannya tak kan pernah terelakkan... Ia datang tanpa diundang... Kehadirannya tidak dapat diundur ... tidak pula dapat disegerakan... Itulah kematian (al-maut)...
Berikut saya tuliskan pengalaman saya ketika opname di RS. Sarjito:
Pada tanggal 10 Mei 2010 adalah hari aku opname di RS. Sarjito Yogyakarta. Tepatnya hari senin jam 13.00 wib. Ketika aku terbaring di kamar pasien, aku terenyuh melihat sekelilingku. Di kamar yang sama aku melihat jiwa-jiwa yang terbaring lemas karena penyakit dan musibah yang diderita. Jiwa yang satu dengan jiwa yang lain menderita penyakit dan musibah yang berbeda. Sebagian mereka merintih-rintih kesakitan. Di waktu mereka merintih-rintih (setelah sebelumnya aku menagis karena rasa sakitku), aku sesekali menatap wajah-wajah mereka sambil membayangkan rasa sakit yang mereka rasakan. Rasanya aku tidak kuasa menahan rasa iba kepada mereka. Bagaimana tidak ...? mereka menjerit dengan suara yang menakutkan seluruh isi kamar pasien. Di saat itulah hati kecilku slalu berkata dengan penuh ketundukan: ”alhamdulillah...terimakasih ya Rabb...”, aku sangat bersyukur kepada penciptaku karena ternyata betapa banyak orang lain yang merasakan sakit atau penderitaan yang jauh lebih parah dari penyakit yang menimpaku. Begitulah hari pertama aku di RS. Sarjito.
Pada hari kedua, kasur atau ranjang kosong di depanku ditempati pasien baru yang harus minum memakai selang lewat hidungnya.”Duh ya Rabb...” penyakit apa lagi ni! kataku dalam hati. Aku membayangkan “bagaimana seandainya aku yang mengalami hal itu? “duh Tuhan...betapa pemurahnya Engkau...” kataku lirih. Lalu kupandangi sekelilingku dengan penuh hayat, lalu dalam benakku muncul ucapan “betapa besar nikmat-Mu ya Rabb...! Aku telah banyak menyia-nyiakan masa sehatku. Padahal pada waktu yang bersamaan, orang-orang yang merintih kesakitan diberbagai tempat -khususnya di rumah-rumah sakit- sangat membutuhkan nikmat sehat...jadikanlah hamba ini orang yang selalu bersyukur pada-Mu ya Rabb...”. penyesalan dalam diriku pada saat itu muncul. Dan memang begitulah kebanyakan manusia. Di saat sehat, mereka sering melalaikannya dan di saat sakit atau musibah menimpanya mereka seraya memohon ampun kepada pencipta-Nya.
Pada hari ketiga, di kamar sebelah terdengar suara histeris yang membuat orang-orang sekitarnya bangkit dari duduk dan tempat tidurnya, termasuk aku. Lalu orang-orang mendekatinya karena ingin tau apa yang terjadi. Ternyata suara tangisan yang histeris tadi suara seorang gadis dan anak kecil, menangis karena ditinggal untuk selamanya oleh ibunya yang masih muda (usia 30-an th). Sementara aku duduk termenung dengan perasaan iba yang sangat pada anak kecil itu dan tanpa terasa air embunku pun menetes kepipiku. Hatiku berkata: ”Ya Rabb...!berilah kesabaran pada anak-anaknya dan terimalah amal-amalnya...”.
Di hari keempat, dari jendela kamarku sinar mentari pagi masih terlihat kekuning-kuningan. Tiba-tiba terdengar suara yang histeris yang tak kalah kerasnya dengan hari sebelumnya. Kutanyakan pada ibuku yang menemaniku di RS, katanya dengan bahasa daerahku “di lantai bhebhe bedhe oreng mate” (di lantai bawah ada orang yang meninggal). Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un...
Pada hari kelima, dua kasur yang kosong tiba-tiba kedatangan dua pasien baru dengan penyakit yang berbeda; satu menderita penyakit tumur yang menggerogoti seluruh tubuhnya, yang paling parah tumur di lehernya yang menyebabkan dirinya sesak nafas dan mengharuskan dia memakai alat bantu nafas. Begitu juga dengan minum, dia harus minum lewat hidungnya, itu pun masih harus menahan sakit yang sangat di saat minum. Sedangkan orang yang satunya, aku gak tau penyakitnya pa. Tapi yang jelas dia merasa sakit pada bagian perutnya. Hal itu menyebabkan dia menjerit-jerit sejak dia masuk rumah sakit. Yang sering keluar dari mulutnya adalah lantunan istighfar “astaghfirullaahal ‘adhim...”. orang ini tidak bisa duduk dan bergerak sedikitpun. Buang air di atas kasurnya. Setiap kali akan menggerakkan badannya, harus dibantu oleh keluarganya...(ya Allah..ya Robb..betapa nikmat rasa sehat itu...) mengapa kita banyak menyalahgunakannya...? akankah kita terus-menerus terbawa oleh hawa nafsu...???kami berlindung dari segala kejahatannya ya Allah...
Kedua orang di atas adalah seorang bapak yang relatif masih muda. Kondisi bapak yang menderita tumur tadi, hampir hari-harinya tidak dapat istirahat. Pagi, siang, malam hampir dipastikan selalu histeris. Kondisinya membuat istri dan keluarganya kebingungan mau berbuat apa. Dokter sudah memberikan obat penenang atau penawar sakit, namun itu hanya bertahan lima menit. Sesudah itu, menjerit lagi. Para pasien yang sekamar dengannya, termasuk aku, tidak tega melihatnya. Matanya dan mata istrinya terlihat sangat lelah dan kemerah-merahan karena dua hari tidak bisa istirahat.
Pada saat masuk RS, bapak ini masih bisa berjalan dengan gagahnya disertai dengan tertawa yang girang karena rasa senang saat dikunjungi saudara-saudaranya. Tapi tanpa diduga, sehari setelah di RS, bapak tersebut mengalami lumpuh pada salah satu kakinya yaitu pada kaki kirinya. Kejadian itu membuat bapak dan keluarganya bertambah bingung disertai dengan isak tangis sang istri karena tidak mampu menatap wajah dan kondisi suaminya yang semakin buruk. Sejak itulah suara teriakan bapak itu semakin keras karena sakit yang dirasakan. Aku hanya bisa mendoakan bapak itu. Setiap kali aku menatapnya, membuatku tidak kuasa menahan air mataku. Itu terus berlanjut sampai hari kedua. Di hari yang ketiga bapak itu di RS, hari masih pagi. Aku tidak mencatat waktu itu jam berapa, tapi yang pasti sebelum jam 07.00 wib terjadi peristiwa yang menimpa bapak itu yang membuat keluarganya berteriak meminta tolong orang-orang dan peristiwa itu juga sangat membuat isi kamar geger. Saat itu bapak tersebut merasa sangat kesakitan dan berteriak jauh lebih keras dari sebelum-sebelumnya. Dokter sempat menenangkannya dan akhirnya bisa tenang. Dua menit setelah ditinggalkan oleh dokternya, bapak itu menjerit lagi dan langsung bangkit dari tempat duduknya dan berkata “aku akan lompat dari jendela ja...” lalu alat bantu nafasnya dibuka dan mendorong setiap orang yang menghalanginya. Alhamdulillah, berhasil di cegah. Lalu bapak itu terjatuh di lantai, ibuku memegang infusnya, namun satu menit setelahnya bapak itu pun pergi untuk selamanya...”innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un” ucapku dalam hati...melihat peristiwa itu, suara tangisan pun meledak secara tiba-tiba. Keluarganya, ibu dan mbahku yang menjagaku di RS tidak bisa menahan tangisnya termasuk aku...
Begitulah ajal tidak dapat diduga kapan datangnya. Kita semua akan mengalaminya. Pernahkah kita memikirkan saat-saat kematian sedangkan kita tetap dalam keadaan bermaksiat dan durhaka kepada Allah? Tahukah kapan kita akan meninggal? Di mana dan dalam keadaan yang bagaimana akan dipanggil Allah? Demi Allah...! kita akan menjawab “tidak tau”. Lalu mengapa kita masih menunda-nunda taubat???
Jika kita masih lalai dan tetap berpaling dari kebenaran hingga tiba saat-saat kematian kita, maka penyesalan yang sangat mendalamlah yang akan menimpa kita kelak di alam kubur. Bahkan kita akan memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amal kita. Hal ini Allah kabarkan dalam surat Al-Mukminun: 99-100 :
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepa seorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku! Kembalikanlah aku ke dunia agar aku berbuat amal shalih terhadap orang yang aku tinggalkan. (Allah menjawab) “sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanya perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh samapai hari mereka di bangkitkan”.
Wallaahu a’lam bish-shawaab. (Shl)
(RS. Sarjito Yogyakarta, 19 Mei 2010)