Rabu, 30 Januari 2013

MEMBACA AL-QUR’AN: TERAPI GALAU AMPUH DAN MURAH MERIAH (2)


   Rasa galau adalah rasa yang fitrawi. Rasa itu dialami oleh semua manusia yang hidup. Orang yang mengalami kegalauan dalam hidupnya adalah sesuatu yang lumrah. Bila kita merasakan hal itu, tidak usah khawatir secara berlebihan supaya ga dibilang lebai. (hehehe)  

       Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa untuk menghilangkan dan mengendalikan rasa galau yang berlebihan adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah swt. Seperti membaca kalimat-kalimat thayyibah; membaca subhanallah, al-hamdulillah, allahu akbar dll.

   Selain itu, di antara jenis dizikir yang utama adalah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan Allah untuk dijadikan sebagai pedoman, panduan, pembimbing, petunjuk, rahmat bagi manusia.

            Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang mulia. Ia berbeda dengan Hadits. Membaca Al-Qur’an mendapat pahala (al-muta’abbad bi tilawatihi) sedangkan hadits tidak.  

            Al-Qur’an adalah obat (syifa’) bagi yang sakit. Tidak hanya obat tuk sakit hati dan psikis (kejiwaan) tapi juga fisik. Orang yang mengalami goncangan jiwa, ketidak tenangan, kegalauan, dan perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan lainnya dapat ditenangkan dengan membaca Al-Qur’an. Allah telah memberitahukan kepada kita mengenai hal tersebut. Allah berfirman:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ [٣٩:٢٣]
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS. Az-Zumar: 23)

Ayat di atas menyebutkan, bahwa Al-Qur’an mampu mengantarkan pembacanya kepada ketenangan jiwa, kestabilan emosi. Itu terjadi karena Al-Qur’an adalah kalam Allah yang dijadikan Allah sebagai penyembuh bagi yang sakit, rahmat bagi mereka yang mau berpedoman dengan Al-Qur’an. Dan sebaliknya, orang yang tidak mau, enggan dengan Al-Qur’an, keengganannya hanya akan menambah kesengsaraan, kesesatan, kegersangan jiwa, dan kerugian di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus: 57)

            Membaca yang dimaksud di sini bisa membaca tanpa memahami maknanya. Tentu bacaan yang akan menjadi penyembuh adalah bacaan yang diniatkan ikhlas. Rasa tenang dalam jiwa akan diturunkan oleh Allah kepada mereka yang benar-benar membacanya secara ikhlas dan menyerahkan dirinya secara total kepada Allah.
            Mereka yang mengalami kegundahan, kegelisahan, kegalauan dalam dirinya karena telah berbuat salah, dosa, maka perasaan-perasaan tadi akan hilang dan jiwa menjadi tenang dengan membaca Al-Qur’an. Karena membaca Al-Qur’an adalah sebuah kebaikan. Dan kebaikan dapat menghapus dosa-dosa yang kita lakukan. Rasulullah saw bersabda:
(من قرأ حرْفاً من كتاب الله ؛ فله به حسنة، والحسنة بعشْرِ أمثالها ، لا أقول : (الم ) حرف ، ولكن ألف حرف ، ولام حرف، وميم حرف).
أخرجه البخاري في "التاريخ " (1/216/679)
“barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan. Aku (nabi) tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim itu satu huruf, akan tetapi Alif itu satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Bukhari)
Jika membaca tanpa memahami maknanya saja dapat menyembuhkan dan menghilangkan kegalauan, kegelisahan diri apalagi jika sampai pada tahap memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca. Allah akan menurunkan ketenangan dalam diri kita jika kita mau mempelajari isi kandungan Al-Qur’an.
ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله و يتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة و حفتهم الملائكة و ذكرهم الله فيمن عنده (رواه مسلم)
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk melantunkan Al-Qur’an dan saling mengkajinya di antara mereka melainkanakan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut mereka kepada makhluk yang ada di sisi Allah” (HR. Muslim)
Kita tidak perlu heran dengan keajaiban yang dimiliki oleh Al-Qur’an. Karena ia adalah firman Allah, kalam yang terbaik, tidak ada kalam yang mengunggulinya dari aspek apapun.
Memang bagi orang yang beriman tidak cukup hanya sekedar membaca dan memahami lalu berhenti pada tahap itu. Idealnya bagi kita yang mengaku beriman, harus sampai pada tahap mengamalkan isi al-qur’an dan mendakwahkannya kepada orang lain. Jika kita sampai pada tahap ini, jelas kita akan mendapatkan dan merasakan rahmat Allah yang tidak ada bandingannya. Kebahagiaan, ketenangan batin, dan pengadian yang total kepada Allah akan terasa indah.
Wallahu a’lamu bish shawab.
(Muhammad Shaleh, ditulis tgl 30 Januari 2013)

Selasa, 29 Januari 2013

GALAU : CARA PENGOBATAN AMPUH DAN MURAH MERIAH (1)


Dalam kehidpan kita, pasti pernah merasakan berbagai macam perasaan (emosi). Terkadang merasa cinta-lah, benci-lah, senang-lah, sedih-lah, gundah-lah, galau-lah, marah-lah, cemburu-lah dan lah-lah yang lain. Perasaan-perasaan itu merupakan susuatu yang fitri atau lumrah yang pasti dirasakan oleh setiap insan. Jika da orang yang merasakan salah satu dari perasaan itu, hal itu normal. Karena Allah menciptakannya demikian. Akan tetapi jika perasaan-peraan itu kog dibiarkan lepas tanpa kendali atau berlebih-lebihan, maka akan menjadi bencana dan sumber dari kerusakan dan kehancuran bagi manusia. Gak hanya dirinya yang rusak, tapi orang lain pun akan kena imbasnya.

Oleh karena itulah, Islam datang untuk mengatur kehidupan manusia, termasuk mengatur emosi mereka agar terarah, terbimbing sehingga membawa kemaslahatan untuk kehidupannya.

Beberapa tahun terakhir ini muncul istilah “galau”. Kata ini sangat familiar dikalangan remaja, mahasiswa, bahkan sudah merambah pada kalangan orang tua dan para da’i. (Waw, luar biasa, yah... virus galau).

Apa ya, galau itu? Kalo kita liat kamus, arti galau itu keadaan pikiran yang kacau, tidak karuan. Kalo ada orang yang sedang bingung mau ngapain itu bisa dibilang sedang galau. Kalo ada orang yang sedang sedih karena suatu masalah dan bingung mau ngapain, itu juga bisa dibilang galau. Ada yang tiba-tiba duduk termenung, bingung mau ngapain, itu juga galau, bro..! (hahaha)

Mengamati kegalauan para remaja dan mahasiswa sekarang ini, kegalauan mereka biasanya lebih disebabkan  karena “cinta” atau hubungan dengan sang pacar. Di saat SMS-nya gak dibalas, sang pacar “galau”. Muncullah reaksi dalam bentuk tulisan status di Face Book (FB) “kenapa sih dengan dia, SMS q gak dibalas-balas!” dan status-status yang lain. Reaksi negatif dari mereka itu karena prasangka buruk yang dikedepankan. Ia ta..?? Padahal kita semua tau kan kalo su’udzon tu gak boleh?? (di sini aku ga bilang boleh pacaran lho...!)

Selain itu, ada juga yang galau disebabkan permasalahan yang sedang dihadapi. Seperti: karena kehilangan seseorang yang dicintainya atau sangat berarti bagi dirinya-lah, tugas sekolah atau kuliah yang belum selesai-lah, hubungan dengan keluarga yang kurang baik-lah, karena bisnis-lah dan lah-lah yang laen. (hihihi)

Sebenarnya, Islam telah memberikan jalan atau cara bagi kita untuk menghilangkan “kegalauan” yang kita rasakan. Tapi seringkali diri ini lebih memilih jalan lain untuk melampiaskan kegalauan kita. Sehingga tidak sedikit yang salah jalan atau melanggar etika Islam. Seperti: menyalahkan diri sendiri terlalu berlebihan-lah, menghukum diri dengan tidak makan seharian-lah, melontarkan kata-kata seronok-lah, menghujat-lah, mengecam-lah, menghina-lah, dan tindakan-tndakan yang menyimpang lainnya-lah. (hihihihi, senengnya bilang “lah-lah”)

Tentu, kita semua gak mau sedih, tapi seringkali lebih memilih bersedih. Kalo ada orang yang lebih memilih kondisi bersedih dari pada kondisi senang atau bahagia, itu menunjukkan jiwanya sedang bermasalah alias tidak normal. Ia, gak?? Sehingga perlu diterapi. Nah! Bagaimana Islam memberikan terapi bagi yang galau?

Mari kita lihat firman Allah dalam surat Ar-Ra’du: 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
                  
                Kalo kurang mantep, Coba, mari kita baca hadits Nabi berikut ini:
مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت (رواه البخاري ومسلم)
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah ibarat orang hidup dan orang mati”
                  
 Maknanya, hidup gak-nya jiwa kita ini tergantung pada seberapa banyak dan sering kita menyirami, memupuknya dengan dzikir kepada Allah swt.

 Orang yang jarang berdikir, ibarat pohon yang jarang disirami air. Lambat laun pohon itu akan kering, rontok, dan akhirnya mati. Begitulah jiwa kita. Lambat laun akan haus, kering, dan akhirnya galau (xixixi). Ga jelas arah hidupnya. Dan kalo dia ga segera mengobatinya dengan dzikir, ia akan terus galau.

Galau itu suatu letupan emosi yang dirasakan seseorang di saat dirinya ditimpa sesuatu yang membuatnya sedih atau yang lain. Nah, tu berarti jiwanya sedang tidak tenang. Makanya biar tenang perbanyaklah dzikir kepada Allah. Simpel kan?? Kalo galau, langsung dzikir ja. Gratis, ga pake bayar, kog. Banyak, lho! orang galau yang datang ke psikiater, konsultan dan biayanya besar. Kan eman-eman to. Dari pada buat bayar konsul, mendingan ditabung ja. Konsul ja langsung sama Allah. Dijamin beres, kog, gratis lagi. Gak percaya sama Allah?? Wah, bahaya klo gak percaya sama pencipta rasa galau mu. Allah yang membuat rasa galau dalam dirimu, Allah juga yang tau gimana cara ngobatinnya. Nah, Allah dah ngasih tau cara ngobatinnya, yaitu berdzikirlah kepada-NYA.

Masih belum puas? Tenang!, ada lagi, kog! caranya mengobati rasa galau kita. Nabi Muhammad SAW. Nganjurin kita berdo’a begini:
اللهمّ إنّي أعوذبك من الهم والحزن...
(Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan..)
(Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari rasa cemas dan sedih...)

Rasulullah mengajarkan kepada kita, yang galau ataupun yang gak galau agar banyak berdo’a kepada Allah dengan do’a yang dah dicontohin nabi itu. Tapi ini bukan berarti kita gak boleh atau haram galau. Gak gitu. Boleh galau asalkan gak menyebabkan kita lakukan sesuatu yang dilarang agama kita. Karena gak mungkin kita terbebas dari rasa galau. Bahkan nabi sekalipun pernah mengalami galau. Apalagi kita, yah...(hehehe  ^_^)

Kalo kita lagi galau, berdikirlah. Gak sah pelit. Hadooohh!, di mana-mana yang namanya orang pelit itu gak disukai orang. Apa lagi, pelit sama Allah. Haduuuhh, pasti Allah lebih gak suka sama kita. Apa susahnya dzikir? Dah gratis, gak pake bayar, to?. Kalo kita dzikir, gak da ruginya, kog! Malah untung. Gak hanya “untung aja”, tapi malah “Untung banget”!. (Xixixi...!)

Gak percaya! Tak kasih satu aja ya. Bukannya pelit, tapi biar gak panjang nulisnya (hihihi). Nabi bersabda:
لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده (رواه مسلم والترمذي وابن ماجه)
“Tidaklah suatu kaum duduk sedang berdikir kepada Allah melainkan para malaikat akan mengelilingi mereka dan mereka dikelilingi rahmat Allah. Ketenangan turun pada mereka, dan Allah akan menyebut mereka kepada makhluk yang ada di sisi Allah”

Coba bayangkan! Cuma berdzikir, gak bayar, tapi Allah malah ngasih hadiah buat kita. Hadiahnya pun gak tanggung-tanggung. Para malaikat itu datang sendiri kepada orang-orang yang mau berdikir kepada Allah. Mereka akan terus mendoakan kita kepada Allah agar dosa-dosa kita diampuni. Mau gak dosa kita diampuni?? Hanya orang yang gak normal yang ga mau..! ( eittts..aku normal lho..!)

Bukan hanya itu hadiahnya, Allah akan menurunkan rahmatNYA, kita akan disembuhkan dari kegalauan, dan kita akan dibangga-banggakan oleh Allah di depan makhluk-makhluk Allah yang ada di sisi Allah. Jika kita dibangga-banggakan Allah, itu menunjukkan bahwa kita adalah orang yang mulia. Subhanallah...!!!

Tentu kita semua merindukan dan menginginkan ini. Bener, mau?! (hehehe), ayo kita biasakan dan perbanyak berdzikir dalam setiap keadaan dan kesempatan. Kita jadikan kegalauan kita sebagai sarana untuk mendekatkan diri kita pada sang pencipta galau. Semoga manfaat, buat sahabat galau dan yang ga galau juga.!amin (^_^)

Wallahu a’lam bish shawab.
(Muhammad Shaleh, di tulis tgl: 28 januari 2013)