Dalam kehidpan kita, pasti pernah merasakan berbagai
macam perasaan (emosi). Terkadang merasa cinta-lah, benci-lah, senang-lah,
sedih-lah, gundah-lah, galau-lah, marah-lah, cemburu-lah dan lah-lah yang lain.
Perasaan-perasaan itu merupakan susuatu yang fitri atau lumrah yang pasti
dirasakan oleh setiap insan. Jika da orang yang merasakan salah satu dari
perasaan itu, hal itu normal. Karena Allah menciptakannya demikian. Akan tetapi
jika perasaan-peraan itu kog dibiarkan lepas tanpa kendali atau
berlebih-lebihan, maka akan menjadi bencana dan sumber dari kerusakan dan
kehancuran bagi manusia. Gak hanya dirinya yang rusak, tapi orang lain pun akan
kena imbasnya.
Oleh karena itulah, Islam datang untuk mengatur kehidupan
manusia, termasuk mengatur emosi mereka agar terarah, terbimbing sehingga membawa
kemaslahatan untuk kehidupannya.
Beberapa tahun terakhir ini muncul istilah “galau”.
Kata ini sangat familiar dikalangan remaja, mahasiswa, bahkan sudah merambah pada
kalangan orang tua dan para da’i. (Waw, luar biasa, yah... virus galau).
Apa ya, galau itu? Kalo kita liat kamus,
arti galau itu keadaan pikiran yang kacau, tidak karuan. Kalo ada orang yang
sedang bingung mau ngapain itu bisa dibilang sedang galau. Kalo ada orang yang
sedang sedih karena suatu masalah dan bingung mau ngapain, itu juga bisa
dibilang galau. Ada yang tiba-tiba duduk termenung, bingung mau ngapain, itu
juga galau, bro..! (hahaha)
Mengamati kegalauan para remaja dan mahasiswa sekarang
ini, kegalauan mereka biasanya lebih disebabkan karena “cinta” atau hubungan dengan sang pacar.
Di saat SMS-nya gak dibalas, sang pacar “galau”. Muncullah reaksi dalam bentuk
tulisan status di Face Book (FB) “kenapa sih dengan dia, SMS q gak
dibalas-balas!” dan status-status yang lain. Reaksi negatif dari mereka itu
karena prasangka buruk yang dikedepankan. Ia ta..?? Padahal kita semua tau kan
kalo su’udzon tu gak boleh?? (di sini aku ga bilang boleh pacaran
lho...!)
Selain itu, ada juga yang galau disebabkan
permasalahan yang sedang dihadapi. Seperti: karena kehilangan seseorang yang
dicintainya atau sangat berarti bagi dirinya-lah, tugas sekolah atau kuliah
yang belum selesai-lah, hubungan dengan keluarga yang kurang baik-lah, karena
bisnis-lah dan lah-lah yang laen. (hihihi)
Sebenarnya, Islam telah memberikan jalan atau cara bagi
kita untuk menghilangkan “kegalauan” yang kita rasakan. Tapi seringkali
diri ini lebih memilih jalan lain untuk melampiaskan kegalauan kita. Sehingga
tidak sedikit yang salah jalan atau melanggar etika Islam. Seperti: menyalahkan
diri sendiri terlalu berlebihan-lah, menghukum diri dengan tidak makan seharian-lah,
melontarkan kata-kata seronok-lah, menghujat-lah, mengecam-lah, menghina-lah,
dan tindakan-tndakan yang menyimpang lainnya-lah. (hihihihi, senengnya
bilang “lah-lah”)
Tentu, kita semua gak mau sedih, tapi seringkali lebih
memilih bersedih. Kalo ada orang yang lebih memilih kondisi bersedih dari pada
kondisi senang atau bahagia, itu menunjukkan jiwanya sedang bermasalah alias
tidak normal. Ia, gak?? Sehingga perlu diterapi. Nah! Bagaimana Islam
memberikan terapi bagi yang galau?
Mari kita lihat firman Allah dalam surat Ar-Ra’du: 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Kalo kurang mantep, Coba, mari
kita baca hadits Nabi berikut ini:
مثل الذي يذكر ربه
والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت (رواه البخاري ومسلم)
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada
Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah ibarat orang hidup dan
orang mati”
Maknanya,
hidup gak-nya jiwa kita ini tergantung pada seberapa banyak dan sering kita
menyirami, memupuknya dengan dzikir kepada Allah swt.
Orang
yang jarang berdikir, ibarat pohon yang jarang disirami air. Lambat laun pohon
itu akan kering, rontok, dan akhirnya mati. Begitulah jiwa kita. Lambat laun
akan haus, kering, dan akhirnya galau (xixixi). Ga jelas arah hidupnya.
Dan kalo dia ga segera mengobatinya dengan dzikir, ia akan terus galau.
Galau itu suatu letupan emosi yang dirasakan seseorang di
saat dirinya ditimpa sesuatu yang membuatnya sedih atau yang lain. Nah, tu
berarti jiwanya sedang tidak tenang. Makanya biar tenang perbanyaklah dzikir
kepada Allah. Simpel kan?? Kalo galau, langsung dzikir ja. Gratis, ga pake
bayar, kog. Banyak, lho! orang galau yang datang ke psikiater, konsultan
dan biayanya besar. Kan eman-eman to. Dari pada buat bayar konsul, mendingan
ditabung ja. Konsul ja langsung sama Allah. Dijamin beres, kog, gratis lagi.
Gak percaya sama Allah?? Wah, bahaya klo gak percaya sama pencipta rasa galau
mu. Allah yang membuat rasa galau dalam dirimu, Allah juga yang tau
gimana cara ngobatinnya. Nah, Allah dah ngasih tau cara ngobatinnya, yaitu berdzikirlah
kepada-NYA.
Masih belum puas? Tenang!, ada lagi, kog! caranya
mengobati rasa galau kita. Nabi Muhammad SAW. Nganjurin kita berdo’a
begini:
اللهمّ إنّي أعوذبك من الهم والحزن...
(Allahumma inni
a’udzu bika minal hammi wal hazan..)
(Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari rasa
cemas dan sedih...)
Rasulullah mengajarkan kepada kita, yang galau ataupun
yang gak galau agar banyak berdo’a kepada Allah dengan do’a yang dah dicontohin
nabi itu. Tapi ini bukan berarti kita gak boleh atau haram galau.
Gak gitu. Boleh galau asalkan gak menyebabkan kita lakukan sesuatu
yang dilarang agama kita. Karena gak mungkin kita terbebas dari rasa galau.
Bahkan nabi sekalipun pernah mengalami galau. Apalagi kita, yah...(hehehe ^_^)
Kalo kita lagi galau, berdikirlah. Gak sah pelit.
Hadooohh!, di mana-mana yang namanya orang pelit itu gak disukai orang. Apa
lagi, pelit sama Allah. Haduuuhh, pasti Allah lebih gak suka sama kita. Apa
susahnya dzikir? Dah gratis, gak pake bayar, to?. Kalo kita dzikir, gak da
ruginya, kog! Malah untung. Gak hanya “untung aja”, tapi malah “Untung
banget”!. (Xixixi...!)
Gak percaya! Tak kasih satu aja ya. Bukannya pelit, tapi
biar gak panjang nulisnya (hihihi). Nabi bersabda:
لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت
عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده (رواه مسلم والترمذي وابن ماجه)
“Tidaklah suatu kaum duduk sedang berdikir kepada Allah
melainkan para malaikat akan mengelilingi mereka dan mereka dikelilingi rahmat
Allah. Ketenangan turun pada mereka, dan Allah akan menyebut mereka kepada
makhluk yang ada di sisi Allah”
Coba bayangkan! Cuma berdzikir, gak bayar, tapi Allah
malah ngasih hadiah buat kita. Hadiahnya pun gak tanggung-tanggung. Para malaikat
itu datang sendiri kepada orang-orang yang mau berdikir kepada Allah. Mereka
akan terus mendoakan kita kepada Allah agar dosa-dosa kita diampuni. Mau gak
dosa kita diampuni?? Hanya orang yang gak normal yang ga mau..! ( eittts..aku
normal lho..!)
Bukan hanya itu hadiahnya, Allah akan menurunkan
rahmatNYA, kita akan disembuhkan dari kegalauan, dan kita akan
dibangga-banggakan oleh Allah di depan makhluk-makhluk Allah yang ada di sisi
Allah. Jika kita dibangga-banggakan Allah, itu menunjukkan bahwa kita adalah
orang yang mulia. Subhanallah...!!!
Tentu kita semua merindukan dan menginginkan ini. Bener,
mau?! (hehehe), ayo kita biasakan dan perbanyak berdzikir dalam setiap keadaan
dan kesempatan. Kita jadikan kegalauan kita sebagai sarana untuk mendekatkan
diri kita pada sang pencipta galau. Semoga manfaat, buat sahabat galau dan yang
ga galau juga.!amin (^_^)
Wallahu a’lam bish shawab.
(Muhammad
Shaleh, di tulis tgl: 28 januari 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa komentarmu?