SEHAT DAN CANTIK ALA HERBAL KAMI..!!! "SEHAT ITU MAHAL, SAKIT ITU MAHAL..MAKA JAGALAH KESEHATAN ANDA"
Jumat, 24 Desember 2010
PENTINGNYA PENDIDIKAN ISLAM SEJAK DINI
PENDAHULUAN
Allah swt telah menurunkan syariat Islam bagi umat manusia untuk merealisasikan kepentingan mereka di dunia dan di akhirat. Semua yang berkaitan dengan kepentingan manusia di dunia dan di akhirat telah digariskan syari’at Islam, baik yang berkaitan dengan cara memperolehnya, cara memeliharanya, serta cara menjaganya. Begitu juga dengan hal-hal yang merusak kehidupan manusia, Allah telah memberikan petunjuknya kepada mereka agar menghindari dan menjauhkan diri darinya. Semua itu untuk mengangkat martabat manusia menjadi khalifah Allah di muka bumi sekaligus untuk kebahagiaannya.
Untuk itu, Islam sangat memperhatikan terhadap perkembangan jiwa manusia, terutama pengawasan yang menyeluruh terhadap pendidikan yang meliputi pendidikan terhadap individu dan masyarakat. Juga tahap perkembangan manusia, yaitu sejak dari masa konsepsi, kelahiran, masa tumbuh kembang, kanak-kanak, remaja, dewasa (awal), hingga masa tua (dewasa menengah hingga akhir).
Islam juga menjelaskan dengan tepat dan ketat tentang cara mendidik dan mengajar, serta menetapkan bagi mereka yang mampu untuk melaksanakannya dengan tanggung jawab penuh.
Islam sangat memperhatikan secara khusus terhadap anak-anak dan pemuda, karena mereka adalah subjek pendidikan serta mereka adalah anggota keluarga yang berhak mendapatkan lebih banyak pendidikan dan pengajaran; untuk merealisasikan cita-cita mereka dengan sempurna. Juga karena tanggung jawab terhadap pendidikan serta pengajaran anak-anak berada di tangan keluarga yang lain. Juga karena anak anak dan pemuda adalah generasi masa depan, dan harapan umat. Bantuan terhadap urusan mereka akan mengarahkan perjalanan umat serta masyarakat, juga bangsa dan kemanusiaan dalam kemajuan maupun kemunduran.
A. Pendidikan Islam Pada Tahap Remaja
Secara garis besar buku yang berjudul “Pentingnya pendidikan Islam sejak Dini” yang ditulis oleh Dr. Muhammad Zuhaili ini dapat di bagi menjadi dua bagian besar, yaitu pendidikan Islam terhadap remaja dan pendidikan Islam terhadap pemuda.
Anak adalah hadiah dari Allah swt. Anak adalah penerus kehidupan manusia di muka bumi. Ia adalah cabang dari pohonnya, buah dari tanamannya. Sehingga seseorang yang diharapkan untuk menjadi lebih baik darinya adalah anaknya sendiri.
Mereka juga amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Mereka titipan yang ditipkan selama beberapa waktu. Karena itu mereka para orang tua harus menjaganya, memeliharanya dan mengarahkannya pada syari’at yang diperintahkan-Nya. Inilah hak anak terhadap orang tua yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, para orang tua wajib memberikan pendidikan yang baik, bimbingan, serta pengajaran untuk anak-anaknya, mempersiapkan, membudayakan dan mengarahkan mereka kepada jalan yang diridhai Allah swt. Sehingga mereka tumbuh dan berkembang menjadi mukmin yang shahih, sesuai dengan fitrahnya sebagaimana ketika mereka dahulu dilahirkan.
Pengaruh orang tua terhadap perkembangan Anak-anaknya sangatlah besar. Terlebih ketika masih usia anak-anak sampai usia remaja. Di masa-masa ini, mereka lebih banyak membutuhkan pengarahan, bimbingan serta kontrol dari mereka. Dan yang tak kalah pentingnya adalah keteladanan dari para orang tua. Karena pada masa-masa tersebut mereka lebih suka meniru dan kondisi mentalnya sangat labil, mudah terbawa arus.
Jika di masa-masa ini para orang tua tidak mengerahkan segala kemampuannya untuk membimbing, memberi contoh yang baik, mendidiknya dengan pendidikan iman yang sempurna, maka jangan salahkan mereka kalau kelak mereka menjadi musuh bagi mereka para orang tua.
Ibnu Qayyim Al-Jauziya pernah berkata: “siapa yang mengabaikan untuk mendidik anak-anaknya dengan apa yang bermanfaat baginya, dan meninggalkannya dalam kesia-siaan maka buruklah baginya seburuk-buruk keadaan. Kebanyakan anak rusak karena kesalahan dan pengabaian orang tua, mereka tidak mengajarkan hal-hal yang wajib dilakukan dalam agama juga hal-hal yang sunnah untuk dilakukan. Mereka pun kehilangan anak-anaknya sejak saat mereka masih kecil. Mereka tidak berguna bagi diri mereka sendiri. Orang tuanya pun tidak memetik manfaat dari mereka saat mereka dewasa. Sebagian orang tua menyalahkan anak-anaknya karena membangkang mereka. Maka berkatalah sang anak “ wahai orang tuaku! Engkau tidak menertibkanku waktu aku kecil, maka jadilah aku pembangkang saat aku berebjak dewasa. Engkau tidak menganggapku saat aku masih kecil, maka aku pun menyingkirkanmu saat engkau tua.”
Oleh karena tujuan yang mulia inilah Islam memprogramkan program-program dalam mendidik anak, yaitu: memilih pasangan hidup dengan baik, perawatan bayi yang baru lahir,perawatan anak dari kecil, memulai pendidikan dan pengarahan anak dari kecil, pengetahuan tentang halal dan haram, mempraktikkan ibadah, membangun hubungan kemasyarakatan yang kuat, menghafal al-Qur’an, menyamaratakan anak-anak, teladan yangbaik, bergantung hanya kepada Allah. Itulah beberapa program Islam dalam mendidik anak yang perlu dilakukan oleh para orang tua.
Setelah para orang tua telah melakukan kewajibannya, yaitu mendidik mereka dengan baik, maka pendidikan selanjutnya harus diberikan oleh masyarakatnya. Peran masyarakat tidak bisa diremehkan dalam memberikan pengaruh kepada mereka, sebab pengaruh yang besar terhadap moral anak justru didapatkan di masyarakat. Banyak nilai-nilai yang sangat bertentangan dengan nilai-nila yang didapati dirumahnya. Di sinilah akan menentukan keberhasilan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua yang selama ini dilakukan di rumahnya. Ketika anak-anak tetap pada nilai-nilai Islam di saat berhadapan dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan yang diajarkan dirumahnya, berarti pendidikan orang tuanya telah berhasil.
Karena itu, syari’at Islam mendirikan dasar amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam kerangka individu maupun komunitas, pada tingkat khusus maupun umum, untuk menjamin bimbingan yang benar dan menciptakan iklim yang kondusif. Meyiapkan lingkungan yang subur, agar umat dan masyarakat melaksanakan tanggung jawab pendidikan serta bimbingan menuju kebaikan, kebenaran dan kesadaran. Melihat begitu pentingnya peran masyarakat dalam keajuan pendidikan ini, maka islam menjadikan majid sebagai basis sentral untuk tempat pendidikan dan sekaligus sumber penyebaran dan pengarahan.
Sekolah sebagai pihak ketiga keluarga dan masyarakat, menempati posisi yang penting dalam pendidikan anak. Bahkan hasil pendidikan di sekolah bisa lebih baek atau sangat baek dari pendidikan di keluarga. Oleh Karena itu, sekolah juga memikul tanggung jawab dalam mempersiapkan manusia yang shalih dan membangun generasi yang lebih maju. Sekolah dapat melaksanakan tugas sucinya melalui kurikulum pendidikan, buku-buku pendidikan, serta guru-guru yang menjadi pendidik mereka.
B. Pendidikan Islam Pada Pemuda
Ketika masa kanak-kanak selesai, orang tua telah melaksanakan kewajibannya dalam mendidik, mempersiapkan, dan mengarahkan anak-anak. Lalu anak- beranjak dewasa dan mencapai tingkatan kesempurnaan, baik fisik maupun akalnya telah matang. Ia menjadi pemuda yang kuat dan kokoh. Tanggung jawab dalam pendidikan pun terbagi dengan sendirinya. Orang tua hanya sedikit menyisakan tanggung jawab bagi mereka dalam mengikuti perjalanan pendidikannya. Ikut serta dalam bagian yang lebih besar adalah peran sekolah, para guru dan masyarakat. Para orang tua atau orang dewasa harus membimbing mereka dengan penuh kasih sayang.
Pemuda itu sendiri memikul tanggungjawab di hadapan Allah swt. Dan di hadapan masyarakat serta umat. Karena itu Islam mengutamakan bimbingan yang sempurna untuk pemuda dan mengarahkan mereka secara langsung.
Islam menjelaskan kepada mereka beberapa ketentuan khusus tentang mereka dan menunjuki mereka kepada jalan kebaikan dan keutamaan. Memperingatkan mereka dari kejahatan setan beserta sekutunya. Islam menampakkan celah berbahaya yang membawa mereka dalam penyelewengan dan kerusakan, yaitu nafsu syahwat.
Islam telah membimbing pemuda kepada ketaatan dan ibadah, untuk menjaga mereka pada masa yang penting ini baik secara fisik, pemikiran, kejiwaan dan emosiaonal dari tergelincir kepada nafsu yang hina dan kerusakan, seperti yang tampak pada masa sekarang ini. Waktu dan tempat mereka penuh dengan kemungkaran dan kesia-siaan.
Ibadah berfungsi menertibkan kehidupan pemuda dan menghadapkan pemikirannya untuk tunduk serta taat hanya kepada penciptanya. Ia adalah sistem pendidikan ilahi yang membantu pemuda untuk memanfaatkan waktu serta sumber dayanya guna mewujudkan tujuan dan harapan tertinggi, juga ambisinya dalam kehidupan.
Dengan melihat kematangan seksualnya, kekuatan yang nyata padanya, dan sumber daya yang dimilikinya, maka Islam mengarahkan sumber daya tersebut di jalan yang benar yang sudah diatur yang tentu saja jalan tersebut akan mendatangkan manfaat baik bagi individu pemuda maupun masyarakat secara keseluruhan, yaitu “pernikahan”. Dengan metode ini, yaitu mengizinkan pemuda untuk menikah merupakan tindakan yang mampu menjaga kukuatan dan sumber dayanya, serta memelihara dalam waktu yang tepat.
PENUTUP
Islam memerintahkan para orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang benar sebagaimana yang dituntunkan Islam. Mereka harus berusaha keras mendidik anak-anak mereka agar kelak menjadi pemuda harapan semua umat.
Islam memberikan banyak keutamaan bagi pemuda yang shalih, ta’at beragama. Mengistimewakan mereka, menempatkan mereka di barisan yang terpilih disisi Tuhannya (Bukhari-Muslim). Hal ini karena masa muda adalah masa yang menempati posisi yang penting dalam kemajuan umat di masa yang akan datang, juga banyaknya rintangan dan tantangan yang dihadapi oleh mereka. Di mana pada masa ini mereka tidak sedikit yang melakukan penyimpangan-penyimpangan; baik penyimpangan pada aspek pemikiran, perilaku seksual, keyakinan dll.
Wallahu a’lam.
(Diresume dari buku Pentingnya pendidikan Islam Sejak Dini, karangan Dr. Muhammad Zuhaili)
Selasa, 26 Oktober 2010
أداب النكاح فى الإسلام
والجماع من الأمور الحياتية المهمة التي أتى ديننا بتبيينها وشرع لها من الآداب والأحكام ما يرقى بها عن مجرد أن تكون لذّة بهيمية وقضاء عابرا للوطر بل قرنها بأمور من النيّة الصالحة والأذكار والآداب الشرعية ما يرقى بها إلى مستوى العبادة التي يُثاب عليها المسلم. وجاء في السنّة النبوية تبيان لذلك، قال الإمام ابن القيم رحمه الله تعالى في كتابه زاد المعاد : ( وأما الجماع أو الباءة ، فكان هديه فيه - صلى الله عليه و سلم - أكمل هدي، يحفظ به الصحة، وتتم به اللذة وسرور النفس، ويحصل به مقاصده التي وضع لأجلها، فإن الجماع وضع في الأصل لثلاثة أمور هي مقاصده الأصلية :
أحدها: حفظ النسل ، ودوام النوع إلى أن تتكامل العدة التي قدر الله بروزها إلى هذا العالم.
الثاني: إخراج الماء الذي يضر احتباسه واحتقانه بجملة البدن.
الثالث: قضاء الوطر، ونيل اللذة، والتمتع بالنعم.
وقال رحمه الله تعالى : ( ومن منافعه - أي الجماع - : غض البصر، وكف النفس ، والقدرة على العفة عن الحرام ، وتحصيل ذلك للمرأة ، فهو ينفع نفسه في دنياه وأخراه ، وينفع المرأة، ولذلك كان النبي صلى الله عليه وسلم يتعاهده ويحبه، ويقول: ( حبب إلي من دنياكم: النساء والطيب ). رواه أحمد والنسائى وأبوداود وصححه الحاكم.
وقال صلى الله عليه وسلم : ( يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ، فإنه أغض للبصر وأحفظ للفرج ، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء ) رواه البخاري ومسلم.
1. ومن الأمور المهمة التي ينبغي مراعاتها عند الجماع :
إخلاص النية لله عز وجل في هذا الأمر، وأن ينوي بفعله حفظ نفسه وأهله عن الحرام وتكثير نسل الأمة الإسلامية ليرتفع شأنها فإنّ الكثرة عزّ ، وليعلم أنه مأجور على عمله هذا وإن كان يجد فيه من اللذة والسرور العاجل ما يجد ، فعن أبي ذر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( وفي بُضع أحدكم صدقة ) - أي في جماعه لأهله - فقالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال عليه الصلاة والسلام: ( أرأيتم لو وضعها في الحرام، أكان عليه وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر ) رواه مسلم
وهذا من فضل الله العظيم على هذه الأمة المباركة ، فالحمد لله الذي جعلنا منها.
2. أن يقدِّم بين يدي الجماع بالملاطفة والمداعبة والملاعبة والتقبيل، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يلاعب أهله ويقبلها.
3. أن يقول حين يأتي أهله ( بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا ) قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( فإن قضى الله بينهما ولدا ، لم يضره الشيطان أبدا) رواه البخاري
4. يجوز له إتيان المرأة في قبلها من أي جهة شاء ، من الخلف أو الأمام شريطة أن يكون ذلك في قُبُلها وهو موضع خروج الولد ، لقول الله تبارك و تعالى : ( نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم ) . وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : كانت اليهود تقول : إذا أتى الرجل امرأته من دبرها في قبلها كان الولد أحول ! فنزلت : ( نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم) فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (مقبلة ومدبرة إذا كان ذلك في الفرج) رواه البخاري.
5. لا يجوز له بحال من الأحوال أن يأتي امرأته في الدبر، قال الله عز وجل: (نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم) ومعلوم أن مكان الحرث هو الفرج وهو ما يبتغى به الولد ، قال النبي صلى الله عليه وسلم : (ملعون من يأتي النساء في محاشِّهن : أي أدبارهن) رواه ابن عدي و صححه الألباني. وذلك لما فيه من مخالفة للفطرة ومقارفة لما تأباه طبائع النفوس السوية، كما أن فيه تفويتا لحظ المرأة من اللذة، كما أن الدبر هو محل القذر، إلى غير ذلك مما يؤكد حرمة هذا الأمر.
6. إذا جامع الرجل أهله ثم أراد أن يعود إليها فليتوضأ، لقوله صلى الله عليه وسلم : (إذا أتى أحدكم أهله ثم أراد أن يعود فليتوضأ بينهما وضوءًا، فإنه أنشط في العَوْد) رواه مسلم. وهو على الاستحباب لا على الوجوب. وإن تمكن من الغسل بين الجماعين فهو أفضل، لحديث أبي رافع أن النبي صلى الله عله وسلم طاف ذات يوم على نسائه، يغتسل عند هذه وعند هذه، قال فقلت له: يا رسول الله ألا تجعله غسلاً واحداً ؟ قال: (هذا أزكى وأطيب وأطهر) رواه أبو داود والنسائي.
7. يجب الغسل من الجنابة على الزوجين أو أحدهما في الحالات التالية:
- التقاء الختانين: لقوله صلى الله عليه وسلم: " إِذَا جَاوَزَ الْخِتَانُ الْخِتَانَ ( وفي رواية : مسّ الختان الختان ) فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْل . " رواه أحمد ومسلم، وهذا الغسل واجب أنزل أو لم يُنزل . ومسّ الختان الختان هو إيلاج حشفة الذّكر في الفرج وليس مجرّد الملاصقة.
- خروج المني و لو لم يلتق الختانان: لقوله صلى الله عليه وسلم : " إنما الماء من الماء " رواه مسلم.
ويجوز للزوجين الاغتسال معًا في مكان واحد ولو رأى منها ورأت منه، لحديث عائشة رضي الله عنها قالت: كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم من إناء بيني وبينه واحد تختلف أيدينا فيه فيبادرني حتى أقول: دع لي، دع لي قالت: وهما جنبان. رواه البخاري ومسلم.
8. يجوز لمن وجب عليه الغسل أن ينام ويؤخر الغسل إلى قبل وقت الصلاة، لكن يستحب له أن يتوضأ قبل نومه استحبابًا مؤكدًا لحديث عمر أنه سأل النبي صلى الله عليه وسلم: أينام أحدنا وهو جنب؟ فقال عليه الصلاة والسلام: (نعم، ويتوضأ إن شاء) رواه ابن حبان
9. ويحرم إتيان الحائض حال حيضها لقول الله عز وجل: (ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين)، ويجوز له أن يتمتع من الحائض بما دون الفرج لحديث عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمر إحدانا إذا كانت حائضًا أن تتزر ثم يضاجعها زوجها ) متفق عليه.
10. يجوز للزوج العزل إذا لم يرد الولد ويجوز له كذلك استخدام الواقي ، إذا أذنت الزوجة لأنّ لها حقّا في الاستمتاع وفي الولد ، ودليل ذلك حديث جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أنه قال : كنا نعزل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم ينهنا . رواه البخاري.
11. يحرم على كل من الزوجين أن ينشر الأسرار المتعلقة بما يجري بينهما من أمور المعاشرة الزوجية ، بل هو من شر الأمور ، يقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( إن من شر الناس منزلة عند الله يوم القيامة الرجل يفضي إلى امرأته وتفضي إليه ثم ينشر سرها ) رواه مسلم.
هذا ما تيسر ذكره من جملة من آداب الجماع ، فالحمد لله الذي هدانا لهذا الدين العظيم ذي الآداب العالية والحمد لله الذي دلّنا على خير الدنيا والآخرة . وصلى الله على نبينا محمد .
(نقلا عن فتوى لفضيلة الشيخ محمد صالح المنجد بتصريف)
Selasa, 03 Agustus 2010
PUASA RAMADHAN YANG AGUNG
Agama Islam dibangun di atas syari’at-syari’at, ibadah-ibadah dan keawajiban-kewajiban. Syari’at ini di buat oleh syari’ (Allah) li mashalih al-ummah (untuk kemaslahatan ummat) bukan untuk menyengsarakan mereka apalagi membahayakan mereka. Semuanya bermanfaat bagi para pelaku atau pemeluknya, mengantarkan mereka pada kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Di antara syari’at teragung sesudah syahadatain, shalat dan zakat adalah puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan di syariatkan oleh Allah pada tahun kedua Hijriayah. (Imam As-Syaukani, nailul authar: 840). Nash yang dijadikan dalil tentang disyari’atkannya puasa ramadhan adalah surat Al-Baqarah: 183.
“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.
Allah swt mensyari’atkan puasa ramadhan kepada umat ini sebagai wasilah yang agung untuk mencapai derajat taqwa (la’allakum tattaqun). Kata “taqwa” adalah kata yang mencakup semua kebaikan. Sesungguhnya Allah mengaitkan kebaikan-kebaikan dengan taqwa. Dan itu banyak disebutkan berulang-ulang di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Berulangnya penyebutan tersebut mengindikasikan betapa pentingnya perkara tersebut.
Bulan ramadhan akan segera hadir ditengah-tengah kita. Hendaklah kedatangannya kita sambut dengan penuh kegembiraan dan senang hati. Karena keutamaan yang ada di bulan tersebut tidak terdapat pada bulan-bulan yang lain. Jangan sebaliknya. Menganggap bulan ramadhan adalah bulan pelaparan, bulan yang mengurangi waktu seseorang untuk mencari materi, bulan yang menjadikan seseorang habis hartanya karena menyiapkan berbuka dan shadaqah ataupun anggapan-anggapan negatif lainnya. Asumsi-asumsi ini hanya akan dilontarkan oleh mereka yang tidak mengetahui tentang seluk beluk bulan ramadhan dan tentu saja anggapan itu adalah anggapan yang tidak berdasar. Oleh karena itu berikut akan saya paparkan beberapa keutamaan ramadhan dengan harapan dapat memutivasi kita untuk lebih semangat berbulan ramadhan dan menghilangkan anggapan-anggapan yang negatif di atas.
Akan tetapi sebelum memaparkan fadhail ash-shaoum (kutamaan-keutamaan puasa) ada baiknya saya jelaskan makna puasa terlebih dahulu.
الصوم لغة الإمساك، وشرعاً : الإمساك بنية التعبد عن الأكل والشرب وغشيان النساء ، وسائر المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس. (منهاج المسلم، أبوبكر الجزائري، ص. 241)
Secara etimologi (bahasa) puasa (shoum) berarti al-imsak (menahan diri). Menurut syara’ menahan diri disertai dengan niat, dari makan dan minum, hubungan suami istri dan semua hal-hal yang menmbatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. (Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhajul Muslim, hal. 241)
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah puasa hanya menahan diri dari makan, minum dan jima’ (hubungan suami-istri)? Untuk menjawap pertanyaan tersebut mari kita lihat hadits berikut:
ربّ صائم ليس له من صيامه إلا الجوع... ( رواه ابن ماجه وابن خزيمة في صحيحه)
1. “Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan (pahala) puasanya melainkan rasa lapar”. (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya).
من لم يدع قول الزور والعمل به, والجهل, فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه (رواه البخاري)
2. “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan kotor, serta perbuatan bodoh, Allah tidak peduli dengan makan dan minum yang ditinggalkannya (tidak mendapatkan pahala)”. (HR. Bukhari)
Setelah melihat kedua hadits di atas, jelaslah bahwa puasa itu tidak hanya meninggalakan makan dan minum semata. Akan tetapi juga meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah swt seperti berdusta, mencuri, menfitnah, melihat sesuatu yang dilarang, ghibah, pacaran, menipu, dll. Meskipun semua itu tidak membatalkan puasa, namun bila semakin banyak perbuatan dosa yang dilakukan, semakin sedikit pahala yang diperoleh dan bahkan hilang seperti disebutkan oleh hadits di atas. Sehingga yang didapatkan hanyalah lelah, letih, haus dan penyesalan dikemudian hari.
Sesungguhnya ibadah puasa termasuk ibadah yang sangat besar pengaruhnya dalam pensucian jiwa dan pembinaan akhlak manusia. Di dalamnya banyak sekali keutamaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain. Berikut saya paparkan sebagian diantaranya:
1. Dosa-dosa Yang lalu Akan Diampuni
Nabi saw. Bersabda:
من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه)
“Barang siapa yang berpuasa ramadhan karen iman dan mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya.” (HR. Bukhari – Muslim).
Jelaslah bahwa orang yang puasa ramadhan merupakan wasilah diampuninya dosa-dosa. Bagaimana dosa-dosa itu dapat diampuni? Ada syarat yang harus terpenuhi yaitu:
a) Iman dan Ikhlas (إيماناً واحتساباً)
Iman maksudnya betul-betul beriman kepada Allah dan Rasulnya dan membenarkan syari’atnya. Wahtisaban artinya berpuasa semata-mata mengharapkan ridha dan pahala Allah swt dengan niat ikhlas dan tidak riya’ serta taklid.
b) Meninggalkan dosa-dosa besar
Allah berfirman:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kalian meninggalkan dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang terlarang buat kalian, maka Kami hapus dosa-dosa (kecil) kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia”. (An-Nisa’: 31)
Menurut hemat saya, yang dimaksud dosa-dosa besar dalam masalah ini adalah dosa-dosa yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam (mukhrij minal millah).
2. Puasa Sebagai Benteng (junnah)
Nabi saw bersabda:
ألا أدلك على أبواب الخير قلت بلى يا رسول الله قال الصوم جنّة والصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار (رواه الترمذي)
“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Aku (sahabat) menjawab: ia wahai rasulullah. Nabi berkata: puasa adalah perisai dan shadaqah dapat menghilangkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api”. (HR. Tirmidzi)
Dalam tafsir al-wasith oleh Muhammad Sayyid Thanthawi disebutkan bahwa yang dimaksud “junnah” dalam hadits tersebut adalah “wiqoyah” (perlindungan). Disebut demikian Karena puasa dapat melingdungi atau menjaga pelakunya dari terperosok ke dalam maksiat, melindungi dari adzab akhirat (neraka) dan melindungi dari penyakit yang muncul dari makan dan minum yang berlebihan.
Ibnu al-‘Arobi mengatakan bahwa puasa menjadi pelindung dari api neraka kelak karena puasa itu menahan atau mengendalikan syahwat-syahwat. Sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat. (Tanwir al hawalik syarh al Muwaththa’)
Walhasil, semua usaha pengendalian syahwat yang diupayakan di dunia akan menjadi penghalang (satir) dari api neraka di akhirat.
3. Pahala Yang Melimpah
Pahala orang yang berpuasa tidak dibatasi oleh jumlah tertentu bahkan tanpa batas. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Qudsi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَة عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " كُلّ عَمَل اِبْن آدَم يُضَاعِف الْحَسَنَة بِعَشْرِ أَمْثَالهَا إِلَى سَبْعمِائَةِ ضِعْف ، قَالَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْم فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ "
Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda:“ semua amalan manusia akan dilipat gandakan. Satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman:.kecuali puasa. Puasa untuk-Ku (Allah) dan Aku lah yang akan memberi pahalanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sekarang menjadi semakin jelas dengan adanya hadits tersebut, bahwa orang yang berpuasa karena Allah semata akan mendapatkan pahala tanpa batas. Belum lagi pahala kebaikan lainnya yang dilakukan pada saat puasa ramadhan. Semua kebaikan yang dilakukan selain puasa akan dilipatkan menjadi berlipat-lipat. Di samping itu kelak akan mendapatkan pahala surga yang dijanjikan Allah swt. Mereka yang berpuasa karena Allah kelak akan dipanggil melalui pintu surga yang bernama “ar-royyan” (HR. Bukhari). Karena itu merugilah orang-orang yang menyia-nyiakan bulan ramadhan.
Itulah beberapa keutamaan puasa ramadhan. Masih banyak lagi keutamaan yang lain yang tidak mungkin dipaparkan disini semua. Seperti keutamaan yang berkaitan dengan sosial, kesehatan dll. Bagi yang mau memperdalam maslah tersebut, dapat dibaca kitab majalis ramadhan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
Terakhir saya mengajak kepada saudaraku yang seiman untuk tidak menjadikan ramadhan sebagai moment meningkatkan “keshalihan musiman”. Dengan kata lain, mau meningkatkan keshalihan hanya pada saat romadhan saja seperti yang banyak terjadi dikalangan selebritis. Lanjutkanlah keshalihan tersebut pasca ramadhan hingga bertemu ramadhan berikutnya. Karena kesuksesan pendidikan puasa romadhan kita dapat dilihat dari perubahan yang terjadi setelah ramadhan.Wallahu a’lam. (shl)
Jumat, 30 Juli 2010
SUDAH SIAPKAH KITA?
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahalamu. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenagan yang memperdayakan. (Ali- Imran: 185)
Hidup ini adalah sebuah perjalanan, perjalanan menuju akhirat (Allah swt). Sebelulm sampai kepada Allah, Semua makhluk akan merasakan dan melalui sebuah peristiwa agung dan misterius, kedatangannya tak kan pernah terelakkan... Ia datang tanpa diundang... Kehadirannya tidak dapat diundur ... tidak pula dapat disegerakan... Itulah kematian (al-maut)...
Berikut saya tuliskan pengalaman saya ketika opname di RS. Sarjito:
Pada tanggal 10 Mei 2010 adalah hari aku opname di RS. Sarjito Yogyakarta. Tepatnya hari senin jam 13.00 wib. Ketika aku terbaring di kamar pasien, aku terenyuh melihat sekelilingku. Di kamar yang sama aku melihat jiwa-jiwa yang terbaring lemas karena penyakit dan musibah yang diderita. Jiwa yang satu dengan jiwa yang lain menderita penyakit dan musibah yang berbeda. Sebagian mereka merintih-rintih kesakitan. Di waktu mereka merintih-rintih (setelah sebelumnya aku menagis karena rasa sakitku), aku sesekali menatap wajah-wajah mereka sambil membayangkan rasa sakit yang mereka rasakan. Rasanya aku tidak kuasa menahan rasa iba kepada mereka. Bagaimana tidak ...? mereka menjerit dengan suara yang menakutkan seluruh isi kamar pasien. Di saat itulah hati kecilku slalu berkata dengan penuh ketundukan: ”alhamdulillah...terimakasih ya Rabb...”, aku sangat bersyukur kepada penciptaku karena ternyata betapa banyak orang lain yang merasakan sakit atau penderitaan yang jauh lebih parah dari penyakit yang menimpaku. Begitulah hari pertama aku di RS. Sarjito.
Pada hari kedua, kasur atau ranjang kosong di depanku ditempati pasien baru yang harus minum memakai selang lewat hidungnya.”Duh ya Rabb...” penyakit apa lagi ni! kataku dalam hati. Aku membayangkan “bagaimana seandainya aku yang mengalami hal itu? “duh Tuhan...betapa pemurahnya Engkau...” kataku lirih. Lalu kupandangi sekelilingku dengan penuh hayat, lalu dalam benakku muncul ucapan “betapa besar nikmat-Mu ya Rabb...! Aku telah banyak menyia-nyiakan masa sehatku. Padahal pada waktu yang bersamaan, orang-orang yang merintih kesakitan diberbagai tempat -khususnya di rumah-rumah sakit- sangat membutuhkan nikmat sehat...jadikanlah hamba ini orang yang selalu bersyukur pada-Mu ya Rabb...”. penyesalan dalam diriku pada saat itu muncul. Dan memang begitulah kebanyakan manusia. Di saat sehat, mereka sering melalaikannya dan di saat sakit atau musibah menimpanya mereka seraya memohon ampun kepada pencipta-Nya.
Pada hari ketiga, di kamar sebelah terdengar suara histeris yang membuat orang-orang sekitarnya bangkit dari duduk dan tempat tidurnya, termasuk aku. Lalu orang-orang mendekatinya karena ingin tau apa yang terjadi. Ternyata suara tangisan yang histeris tadi suara seorang gadis dan anak kecil, menangis karena ditinggal untuk selamanya oleh ibunya yang masih muda (usia 30-an th). Sementara aku duduk termenung dengan perasaan iba yang sangat pada anak kecil itu dan tanpa terasa air embunku pun menetes kepipiku. Hatiku berkata: ”Ya Rabb...!berilah kesabaran pada anak-anaknya dan terimalah amal-amalnya...”.
Di hari keempat, dari jendela kamarku sinar mentari pagi masih terlihat kekuning-kuningan. Tiba-tiba terdengar suara yang histeris yang tak kalah kerasnya dengan hari sebelumnya. Kutanyakan pada ibuku yang menemaniku di RS, katanya dengan bahasa daerahku “di lantai bhebhe bedhe oreng mate” (di lantai bawah ada orang yang meninggal). Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un...
Pada hari kelima, dua kasur yang kosong tiba-tiba kedatangan dua pasien baru dengan penyakit yang berbeda; satu menderita penyakit tumur yang menggerogoti seluruh tubuhnya, yang paling parah tumur di lehernya yang menyebabkan dirinya sesak nafas dan mengharuskan dia memakai alat bantu nafas. Begitu juga dengan minum, dia harus minum lewat hidungnya, itu pun masih harus menahan sakit yang sangat di saat minum. Sedangkan orang yang satunya, aku gak tau penyakitnya pa. Tapi yang jelas dia merasa sakit pada bagian perutnya. Hal itu menyebabkan dia menjerit-jerit sejak dia masuk rumah sakit. Yang sering keluar dari mulutnya adalah lantunan istighfar “astaghfirullaahal ‘adhim...”. orang ini tidak bisa duduk dan bergerak sedikitpun. Buang air di atas kasurnya. Setiap kali akan menggerakkan badannya, harus dibantu oleh keluarganya...(ya Allah..ya Robb..betapa nikmat rasa sehat itu...) mengapa kita banyak menyalahgunakannya...? akankah kita terus-menerus terbawa oleh hawa nafsu...???kami berlindung dari segala kejahatannya ya Allah...
Kedua orang di atas adalah seorang bapak yang relatif masih muda. Kondisi bapak yang menderita tumur tadi, hampir hari-harinya tidak dapat istirahat. Pagi, siang, malam hampir dipastikan selalu histeris. Kondisinya membuat istri dan keluarganya kebingungan mau berbuat apa. Dokter sudah memberikan obat penenang atau penawar sakit, namun itu hanya bertahan lima menit. Sesudah itu, menjerit lagi. Para pasien yang sekamar dengannya, termasuk aku, tidak tega melihatnya. Matanya dan mata istrinya terlihat sangat lelah dan kemerah-merahan karena dua hari tidak bisa istirahat.
Pada saat masuk RS, bapak ini masih bisa berjalan dengan gagahnya disertai dengan tertawa yang girang karena rasa senang saat dikunjungi saudara-saudaranya. Tapi tanpa diduga, sehari setelah di RS, bapak tersebut mengalami lumpuh pada salah satu kakinya yaitu pada kaki kirinya. Kejadian itu membuat bapak dan keluarganya bertambah bingung disertai dengan isak tangis sang istri karena tidak mampu menatap wajah dan kondisi suaminya yang semakin buruk. Sejak itulah suara teriakan bapak itu semakin keras karena sakit yang dirasakan. Aku hanya bisa mendoakan bapak itu. Setiap kali aku menatapnya, membuatku tidak kuasa menahan air mataku. Itu terus berlanjut sampai hari kedua. Di hari yang ketiga bapak itu di RS, hari masih pagi. Aku tidak mencatat waktu itu jam berapa, tapi yang pasti sebelum jam 07.00 wib terjadi peristiwa yang menimpa bapak itu yang membuat keluarganya berteriak meminta tolong orang-orang dan peristiwa itu juga sangat membuat isi kamar geger. Saat itu bapak tersebut merasa sangat kesakitan dan berteriak jauh lebih keras dari sebelum-sebelumnya. Dokter sempat menenangkannya dan akhirnya bisa tenang. Dua menit setelah ditinggalkan oleh dokternya, bapak itu menjerit lagi dan langsung bangkit dari tempat duduknya dan berkata “aku akan lompat dari jendela ja...” lalu alat bantu nafasnya dibuka dan mendorong setiap orang yang menghalanginya. Alhamdulillah, berhasil di cegah. Lalu bapak itu terjatuh di lantai, ibuku memegang infusnya, namun satu menit setelahnya bapak itu pun pergi untuk selamanya...”innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un” ucapku dalam hati...melihat peristiwa itu, suara tangisan pun meledak secara tiba-tiba. Keluarganya, ibu dan mbahku yang menjagaku di RS tidak bisa menahan tangisnya termasuk aku...
Begitulah ajal tidak dapat diduga kapan datangnya. Kita semua akan mengalaminya. Pernahkah kita memikirkan saat-saat kematian sedangkan kita tetap dalam keadaan bermaksiat dan durhaka kepada Allah? Tahukah kapan kita akan meninggal? Di mana dan dalam keadaan yang bagaimana akan dipanggil Allah? Demi Allah...! kita akan menjawab “tidak tau”. Lalu mengapa kita masih menunda-nunda taubat???
Jika kita masih lalai dan tetap berpaling dari kebenaran hingga tiba saat-saat kematian kita, maka penyesalan yang sangat mendalamlah yang akan menimpa kita kelak di alam kubur. Bahkan kita akan memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amal kita. Hal ini Allah kabarkan dalam surat Al-Mukminun: 99-100 :
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepa seorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku! Kembalikanlah aku ke dunia agar aku berbuat amal shalih terhadap orang yang aku tinggalkan. (Allah menjawab) “sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanya perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh samapai hari mereka di bangkitkan”.
Wallaahu a’lam bish-shawaab. (Shl)
(RS. Sarjito Yogyakarta, 19 Mei 2010)
Rabu, 07 April 2010
ANTARA ILMU DAN DOSA
(Muhammad Sholeh)
Islam sangat menjunjung tinggi akal manusia. Salah satu tujuan diturunkannya syari’at adalah untuk menjaga akal (hifdz al-aqli). Islam melarang segala upaya yang bertujuan untuk merusak akal. Al-Qur’an, sebagai sumber utama hukum Islam, banyak menyebutkan petunjuk yang berupa perintah dan anjuran agar mengembangkan potensi akal yaitu dengan berpikir mengenai ayat-ayat qauliyah dan kauniyah-Nya. Al-Qur’an menyebutkan afalaa ta’qiluun (tidakkah kamu berpikir), afalaa tatafakkaruun (tidakkah kamu berpikir), afalaa yubshiruun (mengapa mereka tidak memperhatikan), afalaa yandzuruun (tidakkah mereka memperhatikan) dan lain sebagainya dari kata yang semakna, sebagai isyarat agar manusia -selaku obyek diturunkannya Al-Qur’an- meggunakan petensi berpikirnya (akal) untuk mencapai kebenaran (petunjuk). Oleh karena itulah, Islam mewajibkan pemeluknya untuk menuntut ilmu sebagai salah satu jalan untuk mengembangkan akalnya.
Kewajiban menuntut ilmu, disebutkan oleh Rasulullah saw di dalam salah satu Haditsnya:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم (رواه ابن ماجه وغيره)
“Dari Anas binMalik ra. Berkata, rasulullah saw bersabda: “mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim”. (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya)
Bagi orang-orang yang berilmu, di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan apresiasi yang luar biasa. Seperti firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ( المجادلة : 11 )
“Allah akan mengangkat dengan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan juga orang-orang yang berilmu” (Al-Mujadalah: 11)
Dalam surat Az-Zumar Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (الزمر:9)
“Katakanlah! Apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Ilmu ibarat obor bagi orang yang menempuh perjalanan digelapan malam yang pekat. Ia menjadi penerang jalan untuk sampai kepada tujuannya. Tanpa obor ia akan kebingungan, jalan di tempat dan kalau terus berjalan, ia akan tersesat. Begitulah ilmu. Ia akan menjadi penerang, penuntun, pembimbing dalam hidup manusia. Penghilang keragu-raguan, penghancur kebodohan, kunci bagi orang-orang yang bertanya dan memuliakan pemiliknya.
Hidup tanpa ilmu sama artinya hidup di dalam kegelapan. Karena kebodohan adalah kegelapan dan ilmu adalah cahaya. Selama seseorang hidup dalam kegelapan dan tetap tinggal di dalamnya, selama itu pula ia akan hidup dalam kebingungan, kesengsaraan, dan kehinaan. Maka ilmu menjadi sangat penting (urgent) dimiliki.
Untuk mendapatkan ilmu, tentu harus dicari dengan segenap potensi yang dimiliki. Usaha yang maksimal dan sungguh-sungguh. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada kisah orang yang meraih kesuksesan dengan duduk tersenyum, mengisi waktunya dengan hura-hura. Kisah sukses dakwah rasulullah saw diawali dengan kerja keras dan merasakan berbagai macam kesusahan. Demikian juga para sahabat. Dan lahirnya ribuan kitab dari tangan-tangan para ulama dicapai dengan kerja yang sungguh-sungguh dan bersusah payah. Akhir dan hasil dari kerja keras mereka adalah kemuliaan.
Dalam pepatah arab disebutkan:
من لم يذق ذل التعلم ساعة تجرع ذل الجهل طول حياته
“Barang siapa yang tidak merasakan hinanya (susahnya) belajar sesaatpun, dia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya”.
Hal itu mereka dapatkan karena ilmu mereka (para ulama) bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Inilah ilmu yang disebut Nabi saw sebagai “ilmun yuntafa’u bihi” (ilmu yang bermanfaat) dan pahalanya akan terus mengalir sekalipun mereka telah wafat.
Bagaimana dengan kita?
Kita sudah belajar sejak dari TK (Taman Kanak-Kanak), SD (Sekolah Dasar) sampai PT (perguruan tinggi) namun ilmu yang diperoleh masih sangat rendah bahkan tidak mendapatkan sama sekali. Barangkali (karena penulis masih menduga) penyebabnya adalah usaha dan kesungguhan di dalam meraihnya masih jauh dari maksimal. Waktu yang 24 jam lebih banyak digunakan untuk hura-hura dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan yang digunakan untuk belajar (belajar dalam artian tidak hanya dalam pendidikan formal) hanya beberapa jam saja. Di waktu-waktu belajar itu pun masih banyak hura-huranya juga.
Di samping faktor di atas, ada faktor lain yang menyebabkan ilmu sulit diperoleh bahkan tidak kita dapatkan. Faktor tersebut disebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya Al-Jawaab al-kaafi, yaitu kemaksiatan (dosa). Dosa adalah penilaian buruk yang diberikan Allah swt atas perbuatan manusia karena melanggar aqidah, syari’ah, dan akhlak Islam. Dan pelakunya mendapatkan balasan (adzab) dari Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang suka berbuat dosa, kerusakan, dan kemungkaran akan dibinasakan oleh Allah swt (Huud: 117).
Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang menerangi hati, sedangkan maksiat akan mematikan cahaya tersebut. (Ali bin Muhammad ad Dihami: 2003)
Kesulitan di dalam mendapatkan ilmu karena maksiat (dosa) ini pernah dirasakan oleh Imam Syafi’i. Sehingga suatu saat Imam Syafi’i datang kepada gurunya (Waqi’), Imam Malik, mengeluhkan perihal sulitnya mendapatkan ilmu, beliau berkata:
شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يهدى لعاصي
“Saya mengadu kepada Waqi perihal buruknya hafalanku, maka dia menasehatiku agar aku meninggalkan maksiat.
Lalu dia memberitahukan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tidak diberikan kepada ahli maksiat”.
Di zaman globalisasi ini terjadi akulturasi budaya. Budaya barat yang sekuler sangat masif menyerang budaya Islam. Lambat laun mayoritas umat Islam lebih suka terhadap budaya mereka dari pada budayanya sendiri (Islam) dan secara otomatis akan semakin mengikis ajaran Islam itu sendiri. Hal ini dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bergaul, sangat jarang mengindahkan norma-norma Islam. Di dalam berpakaian, bertransaksi (jual beli) lebih memilih cara berpakaian dan bertransaksi ala barat sekuler. Fenomena ini dapat kita lihat di kalangan para remaja dan pemuda Islam.
Lingkungan kita sudah sangat kompleks dengan segala macam dan jenis maksiat. Kemungkaran dan kemaksiatan menjadi bahan tontonan setiap hari baik di kota-kota maupun di desa-desa. Terlebih lagi, sekarang dipermudah dengan kecanggihan teknologi. Dengan kecanggihan ini dapat mengakses berbagai informasi yang di inginkan. Mulai dari yang Islami sampai dengan yang kafiri.
Dengan demikian, sebagai konsekwensi logis dari maraknya kemaksiatan, tantangan menjadi semakin besar dan berat bagi para pencari ilmu (thaalib al ilmi). Hal ini diperlukan kekuatan iman untuk membentengi dirinya dari kegelapan maksiat tersebut, membutuhkan kesabaran untuk meninggalkannya dan keistiqomahan dalam ber-Islam. Dengan mengaktualisasikan norma-norma ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan di tengah maraknya kemaksiatan dan mungkarat (kemungkaran) ini, di samping akan menjaga kehormatan kita juga akan membuat hati kita bercahaya sehingga ilmu akan mudah diperoleh. Wallahu a’lam. (shl)
Sabtu, 13 Maret 2010
HAI GENERASI MUDA ISLAM...! QUO VADIS?
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف: 179)
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Beragam fasilitas semakin lengkap dan mudah didapatkan. Membuat manusia semakin mudah dan cepat dalam menyelesaikan aktivitasnya.
Tidak bisa dipungkiri nilai atau dampak positif dari kemajuan tersebut. Namun tak sedikit manusia yang tidak mampu menahan hawa nafsunya sehingga semua fasilitas tersebut disalah gunakan. Pemanfaatan teknologi seharusnya membuat mereka semakin maju baik dari segi ilmu maupun peradaban, akan tetapi realitasnya kemunculan tegnologi semakin mempermudah manusia untuk berbuat dosa, khusunya pemuda pemudi Islam dan umat Islam umumnya.
Budaya barat sangat massif masuk ke dunia Islam. Pemikiran, cara berbusana atau penampilan, cara bergaul dan lain-lain begitu mudahnya diadopsi oleh umat Islam, khusunya generasi muda Islam. Islam, yang menjadi agama mereka seolah jauh dari diri mereka sejauh dua lembah yang dipisah oleh bukit. Ketika mereka ditanya “apa agamanya?”, mereka jawab: Islam. Akan tetapi perilaku keseharian mereka jauh dari nilai-nilai ke Islaman sejauh dua lembah yang tak mungkin bersatu karena dipisahkan oleh bukit tadi. Perumpamaan dua lembah ini saya utarakan untuk mendeskripsikan betapa kehidupan generasi muda kita sangat jauh dari ajaran Islam.
Ironis, mereka bangga dan sangat senang ketika mereka dapat mempertontonkan auratnya kepada orang yang tidak halal untuk melihatnya. Mereka tertawa dengan terbahak-bahak ketika dapat dicium, dipegang oleh kekasihnya (pacar). Padahal semua yang dilakukannya sangat dilarang oleh agamanya. Sehingga tidak sedikit dari kaum hawa yang menjadi korban pelampiasan nafsu kekasihnya. Na’udzu billah...
Allah swt telah memberikan petunjuk kepada kita melalui Nabinya. Petunjuk tersebut telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dan Allah telah memberikan alat kepada kita untuk memahami petunjuk tersebut yaitu; Akal, panca indra, dan hati. Dengan sarana atau alat itulah kita dapat memahami petunjuk-petunjuk Allah dan rasul-Nya yang terdapat di dalam Kitab (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang terbentang di alam semesta ini.
Di dalam Al-Qur’an dan Hadits kita dapatkan banyak aturan hidup; baik kehidupan bersosial, beragama, sikap terhadap pandangan hidup (worldview) lain dan lain sebagainya. Dari fenomena yang terjadi di alam ini kita mendapatkan petunjuk mengenai akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Namun realitasnya, generasi muda kita tidak mau memaksimalkan sarana-sarana yang telah diberikan untuk mendapatkan petunjuk-Nya demi kebaikan dan keselamatan mereka sendiri.
Allah swt berfirman dalam surat Al-A’raf: 179 di atas bahwa ada 3 golongan jin dan manusia yang akan mendapatkan siksa neraka jahannam kelak, yaitu:
Pertama: orang-orang yang diberi hati (qalbun) akan tetapi hatinya tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah swt.,
Kedua: orang-orang yang dikaruniai mata (‘ainun) akan tetapi matanya tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah swt.,
Ketiga: orang-orang yang diberi telinga tetapi telinganya tidak dimanfaatkan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah swt.
Kemudian Allah berfirman bahwa orang-orang yang tidak memanfaatkan sarana-sarana berupa hati, penglihatan, dan telinga untuk memahami petunjuk Allah, maka mereka diumpamakan seperti binatang. Bahkan lebih hina dari binatang.
Perumpamaan Allah ini menunjukkan bahwa Allah mencela hamba-hambaNya yang menyalahgunakan pemberian-Nya. Penyalahgunaan tersebut kelak akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan-Nya. Sebagaimana firmannya:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (الإسراء:36)
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban”. (Al-Isra’: 36)
Oleh karena itu, seyogyanya kita para generasi muda-generasi masa depan- kembali meluruskan langkah kita untuk mengerahkan segenap potensi kita untuk memahami dien Islam demi keselamatan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita tercinta ini. Wallahu a’lam. (shl)