وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف: 179)
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Beragam fasilitas semakin lengkap dan mudah didapatkan. Membuat manusia semakin mudah dan cepat dalam menyelesaikan aktivitasnya.
Tidak bisa dipungkiri nilai atau dampak positif dari kemajuan tersebut. Namun tak sedikit manusia yang tidak mampu menahan hawa nafsunya sehingga semua fasilitas tersebut disalah gunakan. Pemanfaatan teknologi seharusnya membuat mereka semakin maju baik dari segi ilmu maupun peradaban, akan tetapi realitasnya kemunculan tegnologi semakin mempermudah manusia untuk berbuat dosa, khusunya pemuda pemudi Islam dan umat Islam umumnya.
Budaya barat sangat massif masuk ke dunia Islam. Pemikiran, cara berbusana atau penampilan, cara bergaul dan lain-lain begitu mudahnya diadopsi oleh umat Islam, khusunya generasi muda Islam. Islam, yang menjadi agama mereka seolah jauh dari diri mereka sejauh dua lembah yang dipisah oleh bukit. Ketika mereka ditanya “apa agamanya?”, mereka jawab: Islam. Akan tetapi perilaku keseharian mereka jauh dari nilai-nilai ke Islaman sejauh dua lembah yang tak mungkin bersatu karena dipisahkan oleh bukit tadi. Perumpamaan dua lembah ini saya utarakan untuk mendeskripsikan betapa kehidupan generasi muda kita sangat jauh dari ajaran Islam.
Ironis, mereka bangga dan sangat senang ketika mereka dapat mempertontonkan auratnya kepada orang yang tidak halal untuk melihatnya. Mereka tertawa dengan terbahak-bahak ketika dapat dicium, dipegang oleh kekasihnya (pacar). Padahal semua yang dilakukannya sangat dilarang oleh agamanya. Sehingga tidak sedikit dari kaum hawa yang menjadi korban pelampiasan nafsu kekasihnya. Na’udzu billah...
Allah swt telah memberikan petunjuk kepada kita melalui Nabinya. Petunjuk tersebut telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dan Allah telah memberikan alat kepada kita untuk memahami petunjuk tersebut yaitu; Akal, panca indra, dan hati. Dengan sarana atau alat itulah kita dapat memahami petunjuk-petunjuk Allah dan rasul-Nya yang terdapat di dalam Kitab (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang terbentang di alam semesta ini.
Di dalam Al-Qur’an dan Hadits kita dapatkan banyak aturan hidup; baik kehidupan bersosial, beragama, sikap terhadap pandangan hidup (worldview) lain dan lain sebagainya. Dari fenomena yang terjadi di alam ini kita mendapatkan petunjuk mengenai akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Namun realitasnya, generasi muda kita tidak mau memaksimalkan sarana-sarana yang telah diberikan untuk mendapatkan petunjuk-Nya demi kebaikan dan keselamatan mereka sendiri.
Allah swt berfirman dalam surat Al-A’raf: 179 di atas bahwa ada 3 golongan jin dan manusia yang akan mendapatkan siksa neraka jahannam kelak, yaitu:
Pertama: orang-orang yang diberi hati (qalbun) akan tetapi hatinya tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah swt.,
Kedua: orang-orang yang dikaruniai mata (‘ainun) akan tetapi matanya tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah swt.,
Ketiga: orang-orang yang diberi telinga tetapi telinganya tidak dimanfaatkan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah swt.
Kemudian Allah berfirman bahwa orang-orang yang tidak memanfaatkan sarana-sarana berupa hati, penglihatan, dan telinga untuk memahami petunjuk Allah, maka mereka diumpamakan seperti binatang. Bahkan lebih hina dari binatang.
Perumpamaan Allah ini menunjukkan bahwa Allah mencela hamba-hambaNya yang menyalahgunakan pemberian-Nya. Penyalahgunaan tersebut kelak akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan-Nya. Sebagaimana firmannya:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (الإسراء:36)
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban”. (Al-Isra’: 36)
Oleh karena itu, seyogyanya kita para generasi muda-generasi masa depan- kembali meluruskan langkah kita untuk mengerahkan segenap potensi kita untuk memahami dien Islam demi keselamatan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita tercinta ini. Wallahu a’lam. (shl)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa komentarmu?