(Muhammad Shaleh)
Agama Islam dibangun di atas syari’at-syari’at, ibadah-ibadah dan keawajiban-kewajiban. Syari’at ini di buat oleh syari’ (Allah) li mashalih al-ummah (untuk kemaslahatan ummat) bukan untuk menyengsarakan mereka apalagi membahayakan mereka. Semuanya bermanfaat bagi para pelaku atau pemeluknya, mengantarkan mereka pada kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Di antara syari’at teragung sesudah syahadatain, shalat dan zakat adalah puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan di syariatkan oleh Allah pada tahun kedua Hijriayah. (Imam As-Syaukani, nailul authar: 840). Nash yang dijadikan dalil tentang disyari’atkannya puasa ramadhan adalah surat Al-Baqarah: 183.
“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.
Allah swt mensyari’atkan puasa ramadhan kepada umat ini sebagai wasilah yang agung untuk mencapai derajat taqwa (la’allakum tattaqun). Kata “taqwa” adalah kata yang mencakup semua kebaikan. Sesungguhnya Allah mengaitkan kebaikan-kebaikan dengan taqwa. Dan itu banyak disebutkan berulang-ulang di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Berulangnya penyebutan tersebut mengindikasikan betapa pentingnya perkara tersebut.
Bulan ramadhan akan segera hadir ditengah-tengah kita. Hendaklah kedatangannya kita sambut dengan penuh kegembiraan dan senang hati. Karena keutamaan yang ada di bulan tersebut tidak terdapat pada bulan-bulan yang lain. Jangan sebaliknya. Menganggap bulan ramadhan adalah bulan pelaparan, bulan yang mengurangi waktu seseorang untuk mencari materi, bulan yang menjadikan seseorang habis hartanya karena menyiapkan berbuka dan shadaqah ataupun anggapan-anggapan negatif lainnya. Asumsi-asumsi ini hanya akan dilontarkan oleh mereka yang tidak mengetahui tentang seluk beluk bulan ramadhan dan tentu saja anggapan itu adalah anggapan yang tidak berdasar. Oleh karena itu berikut akan saya paparkan beberapa keutamaan ramadhan dengan harapan dapat memutivasi kita untuk lebih semangat berbulan ramadhan dan menghilangkan anggapan-anggapan yang negatif di atas.
Akan tetapi sebelum memaparkan fadhail ash-shaoum (kutamaan-keutamaan puasa) ada baiknya saya jelaskan makna puasa terlebih dahulu.
الصوم لغة الإمساك، وشرعاً : الإمساك بنية التعبد عن الأكل والشرب وغشيان النساء ، وسائر المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس. (منهاج المسلم، أبوبكر الجزائري، ص. 241)
Secara etimologi (bahasa) puasa (shoum) berarti al-imsak (menahan diri). Menurut syara’ menahan diri disertai dengan niat, dari makan dan minum, hubungan suami istri dan semua hal-hal yang menmbatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. (Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhajul Muslim, hal. 241)
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah puasa hanya menahan diri dari makan, minum dan jima’ (hubungan suami-istri)? Untuk menjawap pertanyaan tersebut mari kita lihat hadits berikut:
ربّ صائم ليس له من صيامه إلا الجوع... ( رواه ابن ماجه وابن خزيمة في صحيحه)
1. “Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan (pahala) puasanya melainkan rasa lapar”. (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya).
من لم يدع قول الزور والعمل به, والجهل, فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه (رواه البخاري)
2. “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan kotor, serta perbuatan bodoh, Allah tidak peduli dengan makan dan minum yang ditinggalkannya (tidak mendapatkan pahala)”. (HR. Bukhari)
Setelah melihat kedua hadits di atas, jelaslah bahwa puasa itu tidak hanya meninggalakan makan dan minum semata. Akan tetapi juga meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah swt seperti berdusta, mencuri, menfitnah, melihat sesuatu yang dilarang, ghibah, pacaran, menipu, dll. Meskipun semua itu tidak membatalkan puasa, namun bila semakin banyak perbuatan dosa yang dilakukan, semakin sedikit pahala yang diperoleh dan bahkan hilang seperti disebutkan oleh hadits di atas. Sehingga yang didapatkan hanyalah lelah, letih, haus dan penyesalan dikemudian hari.
Sesungguhnya ibadah puasa termasuk ibadah yang sangat besar pengaruhnya dalam pensucian jiwa dan pembinaan akhlak manusia. Di dalamnya banyak sekali keutamaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain. Berikut saya paparkan sebagian diantaranya:
1. Dosa-dosa Yang lalu Akan Diampuni
Nabi saw. Bersabda:
من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه)
“Barang siapa yang berpuasa ramadhan karen iman dan mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya.” (HR. Bukhari – Muslim).
Jelaslah bahwa orang yang puasa ramadhan merupakan wasilah diampuninya dosa-dosa. Bagaimana dosa-dosa itu dapat diampuni? Ada syarat yang harus terpenuhi yaitu:
a) Iman dan Ikhlas (إيماناً واحتساباً)
Iman maksudnya betul-betul beriman kepada Allah dan Rasulnya dan membenarkan syari’atnya. Wahtisaban artinya berpuasa semata-mata mengharapkan ridha dan pahala Allah swt dengan niat ikhlas dan tidak riya’ serta taklid.
b) Meninggalkan dosa-dosa besar
Allah berfirman:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kalian meninggalkan dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang terlarang buat kalian, maka Kami hapus dosa-dosa (kecil) kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia”. (An-Nisa’: 31)
Menurut hemat saya, yang dimaksud dosa-dosa besar dalam masalah ini adalah dosa-dosa yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam (mukhrij minal millah).
2. Puasa Sebagai Benteng (junnah)
Nabi saw bersabda:
ألا أدلك على أبواب الخير قلت بلى يا رسول الله قال الصوم جنّة والصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار (رواه الترمذي)
“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Aku (sahabat) menjawab: ia wahai rasulullah. Nabi berkata: puasa adalah perisai dan shadaqah dapat menghilangkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api”. (HR. Tirmidzi)
Dalam tafsir al-wasith oleh Muhammad Sayyid Thanthawi disebutkan bahwa yang dimaksud “junnah” dalam hadits tersebut adalah “wiqoyah” (perlindungan). Disebut demikian Karena puasa dapat melingdungi atau menjaga pelakunya dari terperosok ke dalam maksiat, melindungi dari adzab akhirat (neraka) dan melindungi dari penyakit yang muncul dari makan dan minum yang berlebihan.
Ibnu al-‘Arobi mengatakan bahwa puasa menjadi pelindung dari api neraka kelak karena puasa itu menahan atau mengendalikan syahwat-syahwat. Sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat. (Tanwir al hawalik syarh al Muwaththa’)
Walhasil, semua usaha pengendalian syahwat yang diupayakan di dunia akan menjadi penghalang (satir) dari api neraka di akhirat.
3. Pahala Yang Melimpah
Pahala orang yang berpuasa tidak dibatasi oleh jumlah tertentu bahkan tanpa batas. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Qudsi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَة عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " كُلّ عَمَل اِبْن آدَم يُضَاعِف الْحَسَنَة بِعَشْرِ أَمْثَالهَا إِلَى سَبْعمِائَةِ ضِعْف ، قَالَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْم فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ "
Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda:“ semua amalan manusia akan dilipat gandakan. Satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman:.kecuali puasa. Puasa untuk-Ku (Allah) dan Aku lah yang akan memberi pahalanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sekarang menjadi semakin jelas dengan adanya hadits tersebut, bahwa orang yang berpuasa karena Allah semata akan mendapatkan pahala tanpa batas. Belum lagi pahala kebaikan lainnya yang dilakukan pada saat puasa ramadhan. Semua kebaikan yang dilakukan selain puasa akan dilipatkan menjadi berlipat-lipat. Di samping itu kelak akan mendapatkan pahala surga yang dijanjikan Allah swt. Mereka yang berpuasa karena Allah kelak akan dipanggil melalui pintu surga yang bernama “ar-royyan” (HR. Bukhari). Karena itu merugilah orang-orang yang menyia-nyiakan bulan ramadhan.
Itulah beberapa keutamaan puasa ramadhan. Masih banyak lagi keutamaan yang lain yang tidak mungkin dipaparkan disini semua. Seperti keutamaan yang berkaitan dengan sosial, kesehatan dll. Bagi yang mau memperdalam maslah tersebut, dapat dibaca kitab majalis ramadhan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
Terakhir saya mengajak kepada saudaraku yang seiman untuk tidak menjadikan ramadhan sebagai moment meningkatkan “keshalihan musiman”. Dengan kata lain, mau meningkatkan keshalihan hanya pada saat romadhan saja seperti yang banyak terjadi dikalangan selebritis. Lanjutkanlah keshalihan tersebut pasca ramadhan hingga bertemu ramadhan berikutnya. Karena kesuksesan pendidikan puasa romadhan kita dapat dilihat dari perubahan yang terjadi setelah ramadhan.Wallahu a’lam. (shl)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa komentarmu?