(Muhammad Sholeh)
Islam sangat menjunjung tinggi akal manusia. Salah satu tujuan diturunkannya syari’at adalah untuk menjaga akal (hifdz al-aqli). Islam melarang segala upaya yang bertujuan untuk merusak akal. Al-Qur’an, sebagai sumber utama hukum Islam, banyak menyebutkan petunjuk yang berupa perintah dan anjuran agar mengembangkan potensi akal yaitu dengan berpikir mengenai ayat-ayat qauliyah dan kauniyah-Nya. Al-Qur’an menyebutkan afalaa ta’qiluun (tidakkah kamu berpikir), afalaa tatafakkaruun (tidakkah kamu berpikir), afalaa yubshiruun (mengapa mereka tidak memperhatikan), afalaa yandzuruun (tidakkah mereka memperhatikan) dan lain sebagainya dari kata yang semakna, sebagai isyarat agar manusia -selaku obyek diturunkannya Al-Qur’an- meggunakan petensi berpikirnya (akal) untuk mencapai kebenaran (petunjuk). Oleh karena itulah, Islam mewajibkan pemeluknya untuk menuntut ilmu sebagai salah satu jalan untuk mengembangkan akalnya.
Kewajiban menuntut ilmu, disebutkan oleh Rasulullah saw di dalam salah satu Haditsnya:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم (رواه ابن ماجه وغيره)
“Dari Anas binMalik ra. Berkata, rasulullah saw bersabda: “mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim”. (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya)
Bagi orang-orang yang berilmu, di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan apresiasi yang luar biasa. Seperti firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ( المجادلة : 11 )
“Allah akan mengangkat dengan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan juga orang-orang yang berilmu” (Al-Mujadalah: 11)
Dalam surat Az-Zumar Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (الزمر:9)
“Katakanlah! Apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Ilmu ibarat obor bagi orang yang menempuh perjalanan digelapan malam yang pekat. Ia menjadi penerang jalan untuk sampai kepada tujuannya. Tanpa obor ia akan kebingungan, jalan di tempat dan kalau terus berjalan, ia akan tersesat. Begitulah ilmu. Ia akan menjadi penerang, penuntun, pembimbing dalam hidup manusia. Penghilang keragu-raguan, penghancur kebodohan, kunci bagi orang-orang yang bertanya dan memuliakan pemiliknya.
Hidup tanpa ilmu sama artinya hidup di dalam kegelapan. Karena kebodohan adalah kegelapan dan ilmu adalah cahaya. Selama seseorang hidup dalam kegelapan dan tetap tinggal di dalamnya, selama itu pula ia akan hidup dalam kebingungan, kesengsaraan, dan kehinaan. Maka ilmu menjadi sangat penting (urgent) dimiliki.
Untuk mendapatkan ilmu, tentu harus dicari dengan segenap potensi yang dimiliki. Usaha yang maksimal dan sungguh-sungguh. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada kisah orang yang meraih kesuksesan dengan duduk tersenyum, mengisi waktunya dengan hura-hura. Kisah sukses dakwah rasulullah saw diawali dengan kerja keras dan merasakan berbagai macam kesusahan. Demikian juga para sahabat. Dan lahirnya ribuan kitab dari tangan-tangan para ulama dicapai dengan kerja yang sungguh-sungguh dan bersusah payah. Akhir dan hasil dari kerja keras mereka adalah kemuliaan.
Dalam pepatah arab disebutkan:
من لم يذق ذل التعلم ساعة تجرع ذل الجهل طول حياته
“Barang siapa yang tidak merasakan hinanya (susahnya) belajar sesaatpun, dia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya”.
Hal itu mereka dapatkan karena ilmu mereka (para ulama) bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Inilah ilmu yang disebut Nabi saw sebagai “ilmun yuntafa’u bihi” (ilmu yang bermanfaat) dan pahalanya akan terus mengalir sekalipun mereka telah wafat.
Bagaimana dengan kita?
Kita sudah belajar sejak dari TK (Taman Kanak-Kanak), SD (Sekolah Dasar) sampai PT (perguruan tinggi) namun ilmu yang diperoleh masih sangat rendah bahkan tidak mendapatkan sama sekali. Barangkali (karena penulis masih menduga) penyebabnya adalah usaha dan kesungguhan di dalam meraihnya masih jauh dari maksimal. Waktu yang 24 jam lebih banyak digunakan untuk hura-hura dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan yang digunakan untuk belajar (belajar dalam artian tidak hanya dalam pendidikan formal) hanya beberapa jam saja. Di waktu-waktu belajar itu pun masih banyak hura-huranya juga.
Di samping faktor di atas, ada faktor lain yang menyebabkan ilmu sulit diperoleh bahkan tidak kita dapatkan. Faktor tersebut disebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya Al-Jawaab al-kaafi, yaitu kemaksiatan (dosa). Dosa adalah penilaian buruk yang diberikan Allah swt atas perbuatan manusia karena melanggar aqidah, syari’ah, dan akhlak Islam. Dan pelakunya mendapatkan balasan (adzab) dari Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang suka berbuat dosa, kerusakan, dan kemungkaran akan dibinasakan oleh Allah swt (Huud: 117).
Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang menerangi hati, sedangkan maksiat akan mematikan cahaya tersebut. (Ali bin Muhammad ad Dihami: 2003)
Kesulitan di dalam mendapatkan ilmu karena maksiat (dosa) ini pernah dirasakan oleh Imam Syafi’i. Sehingga suatu saat Imam Syafi’i datang kepada gurunya (Waqi’), Imam Malik, mengeluhkan perihal sulitnya mendapatkan ilmu, beliau berkata:
شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يهدى لعاصي
“Saya mengadu kepada Waqi perihal buruknya hafalanku, maka dia menasehatiku agar aku meninggalkan maksiat.
Lalu dia memberitahukan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tidak diberikan kepada ahli maksiat”.
Di zaman globalisasi ini terjadi akulturasi budaya. Budaya barat yang sekuler sangat masif menyerang budaya Islam. Lambat laun mayoritas umat Islam lebih suka terhadap budaya mereka dari pada budayanya sendiri (Islam) dan secara otomatis akan semakin mengikis ajaran Islam itu sendiri. Hal ini dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bergaul, sangat jarang mengindahkan norma-norma Islam. Di dalam berpakaian, bertransaksi (jual beli) lebih memilih cara berpakaian dan bertransaksi ala barat sekuler. Fenomena ini dapat kita lihat di kalangan para remaja dan pemuda Islam.
Lingkungan kita sudah sangat kompleks dengan segala macam dan jenis maksiat. Kemungkaran dan kemaksiatan menjadi bahan tontonan setiap hari baik di kota-kota maupun di desa-desa. Terlebih lagi, sekarang dipermudah dengan kecanggihan teknologi. Dengan kecanggihan ini dapat mengakses berbagai informasi yang di inginkan. Mulai dari yang Islami sampai dengan yang kafiri.
Dengan demikian, sebagai konsekwensi logis dari maraknya kemaksiatan, tantangan menjadi semakin besar dan berat bagi para pencari ilmu (thaalib al ilmi). Hal ini diperlukan kekuatan iman untuk membentengi dirinya dari kegelapan maksiat tersebut, membutuhkan kesabaran untuk meninggalkannya dan keistiqomahan dalam ber-Islam. Dengan mengaktualisasikan norma-norma ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan di tengah maraknya kemaksiatan dan mungkarat (kemungkaran) ini, di samping akan menjaga kehormatan kita juga akan membuat hati kita bercahaya sehingga ilmu akan mudah diperoleh. Wallahu a’lam. (shl)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus